oleh : Adri Prasetyo
(manusia biasa yang juga
punya kesalahan)
"AKU" atau "KAMU" yang sebenarnya
SETIA ?
"Aku" rasa sudah waktunya bagi "aku"
mengungkapkan apa yang "aku" rasa tentang "kamu" agar apa yang kurasa ini tak bermetamorfosa menjadi batu yang nantinya "aku" takut kalau membuat hati "aku" sekeras batu. Hal ini
harus, karena "aku" mau memulai sesuatu yang baru. suatu jalan
perbaikan, setidaknya langkah hidup untuk keluarga kecil "aku". Bukan
lagi untuk "kamu". ingat, itu bukan untuk "kamu".
Begini, Ingatkah "kamu" selama ini "kamu" menuntut sebuah pengabdian dan kesetiaan, kekeluargaan atau apalah namanya. Iya, "aku" masih ingat betul hal itu. sangat jelas masih bergelora didada "aku" yang makanya "aku" menempuh jalan ini. Jalan yang semestinya tidak perlu terjadi dan sama sekali tidak aku ingini. Namun Kamu juga tahu betul bahwa ada yang namanya hukum "SEBAB-AKIBAT".
Begini, Ingatkah "kamu" selama ini "kamu" menuntut sebuah pengabdian dan kesetiaan, kekeluargaan atau apalah namanya. Iya, "aku" masih ingat betul hal itu. sangat jelas masih bergelora didada "aku" yang makanya "aku" menempuh jalan ini. Jalan yang semestinya tidak perlu terjadi dan sama sekali tidak aku ingini. Namun Kamu juga tahu betul bahwa ada yang namanya hukum "SEBAB-AKIBAT".
Coba, apa "kamu" masih ingat berapa tahun "aku"
mendampingi "kamu" dan selalu menuruti "kamu" ? tidak ingat
? mungkin lupa karena "kamu" sudah tua atau belum tua tapi sudah sok
tua. berapa kali "aku" menimang-nimang putra "kamu" dan
keluarga "kamu" untuk membahagiakan "kamu" ? berapa kali "aku"
menghormati "kamu" , putra "kamu" dan keluarga "kamu"
dengan sering menghadiri acaranya, bahkan ikut berjibaku menghias dan mendandani
segala agar sukses besar acara apapun yang "kamu" usung. Tak
terhitung pula berapa kali "aku" menembus jarak dan hujan lebat tuk mengusung nilai
kekeluargaan, kesetiaan, pengabdian yang "kamu" dan keluarga "kamu"
gembar-gemborkan itu.
Tapi coba lihat sekarang. sadarkah "kamu" kalau
"kamu" dan keluarga "kamu" sudah banyak melakukan hal terbalik
dari apa yang "kamu" gemborkan itu ? sadarkah "kamu" kalau "kamu"
inginnya selalu dipedulikan, disapa terlebih dahulu, diberi senyum manis penuh
sopan santun tapi kalau "aku" tidak beri itu "kamu" bilang
"aku tak punya rasa hormat" ? sadarkah "kamu" saat-saat "kamu"
berpapasan dengan "aku" "kamu" tak pernah mau tegur bahkan
tersenyum pada "aku" sementara kepada perempuan-perempuan muda itu "kamu"
bersikap begitu lembut & manis ? dan ingatkah saat disatu kesempatan "aku"
tak bisa menghampirimu karena suatu perlu "kamu" bilang bahwa "aku"
yang sombong dan angkuh ? siapa yang
sebenarnya angkuh dan sombong ?
tahukah kamu bahwa orang yang di-atas-lah
yang lebih memiliki godaan untuk itu
?
Satu hal saja "aku" mau ungkapkan dan
pertanyakan dari sekian banyak pertanyaan "aku" tentang sebuah keluarga dan kesetiaannya. Tentang sekian banyak hal terbalik dimana "kamu" ingin "aku" berbuat untuk "kamu" dan keluarga "kamu" tapi "kamu" lebih sering
menolak berbuat untuk "aku"
dengan berbagai alasan. satu hal saja
pertanyaanku. satu saja.
PERNAHKAH
"KAMU" KERUMAHKU & SUDI MELIHAT PUTRAKU YANG JUGA KEPONAKAN
"KAMU" ?
iya mungkin, beberapa "kamu" pernah kerumah tapi
itu juga bukan karena putra "aku" kan ? itu karena "kamu"
punya hajat dan keperluan juga bantuan "aku" kan ? bukan sebuah
inisiatif yang lahir sungguh-sungguh karena peduli. Bukan lantaran sebuah kesetiaan.
Jadi maaf jika mulai kini JANGAN pernah menuntut
MACAM-MACAM padaku meski "aku" akan tetap melakukan yang TERBAIK yang
"aku" bisa. Tapi bukan untuk "kamu" atau keluarga "kamu"
tapi untuk CINTA ku terhadap putraku. Ingat itu. Ingat.......
Kali ini juga aku tak hendak sedikitpun meminta maaf.
Kita sesama manusia cuma beda usia. kita sama-sama hidup dan bernaung di dunia
fana. Manusia punya hak hidup dan hak diperlakukan seimbang dan wajar setelah
sudah melaksanakan kewajiban. Tuhan punya ketentuan yang bernama sunatullah atau hukum
sebab-akibat yang nyata.
Nb. "aku" & "kamu" adalah untuk semua
yang ikut merasakan hal serupa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar