Oleh : Adri Prasetyo
Pendiri dan pembina POS
(Paguyuban Olah Seni)
Komunitas adalah sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. Dalam komunitas manusia, individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko dan sejumlah kondisi lain yang serupa. Komunitas berasal dari bahasa latin communitas yang berarti "kesamaan", kemudian dapat diturunkan dari communis yang berarti "sama, publik, dibagi oleh semua atau banyak". (Wenger, 2002: 4). Menurut Crow dan Allan, Komunitas dapat terbagi menjadi 3 komponen:
Berdasarkan Lokasi atau Tempat
Wilayah atau
tempat sebuah komunitas dapat dilihat sebagai tempat dimana sekumpulan orang
mempunyai sesuatu yang sama secara geografis.
Berdasarkan Minat
Sekelompok
orang yang mendirikan suatu komunitas karena mempunyai ketertarikan dan minat
yang sama, misalnya agama, pekerjaan, suku, ras, maupun berdasarkan kelainan seksual.
Berdasarkan Komuni
Komuni dapat
berarti ide dasar yang dapat mendukung komunitas itu sendiri.
Persatuan
ide, tujuan, harapan dan impian bersama lah yang bisa membentuk
dan menyatukan sebuah kelompok lalu segera dibarengi tindakan nyata bersama secara positif mewujudkan segala impian dan harapan
tersebut secara continue. Dan hal-hal semacam ini bisa berlangsung lama
atau bahkan hanya sementara, semua tergantung impian yang kuat atau pimpinan yang bijak. Sebuah kelompok
akan menjadi besar atau tetap kerdil bisa tergantung pula dari orang-orang
didalamnya, apakah berpikir besar
atau berpikil kerdil ? Jika yang
berpikir kerdil hanya segelintir orang didalamnya, paling-paling jumlah
komunitas itu yang menyusut namun tetap eksis.
Tapi jika yang berpikir kerdil
adalah sang pemimpin maka bisa dipastikan usia kelompok tersebut tidaklah panjang.
Karena besar
atau kecilnya komunitas tetaplah berisi manusia. Dimana manusia tetap memiliki gejolak nya sebagai rangkaian individu
yang hidup. Kelompok yang berisi
orang-orang yang juga punya perasaan atau bahkan sudah menjadi watak aneka
warna seperti : Cita-cita, obsesi, ambisi, iri hati, dengki, cemburu, cinta,
duka, nafsu, senang bahagia, malas, semangat, trauma, egois, altruis, mood, benci,
dendam, rindu, sensitif, prasangka-prasangka dan lain-lain. gejolak-gejolak ini yang sering kali
menimbulkan pergesekan atau perpecahan dalam sebuah komunitas, apalagi jika
sudah melepaskan gejolak melalui
perbuatan nyata seperti : menjilat, memfitnah, mencibir, menjauhi, menyerang
dengan kasar (kata-kata pedas) atau
halus (menghasut) hingga berbagai serangan yang lebih halus dari yang paling
halus yaitu serangan gaib (santet/pelet/sihir), jika orang yang bersangkutan
punya koneksi kearah sana, meski seakan-akan
dia orang yang tidak percaya hal-hal berbau klenik/mistis. Namun cara yang
demikianlah yang dinilai paling halus
dan rapih, "tidak berbau".
Peristiwa-peristiwa "backstage" inilah yang seringkali tidak
disadari oleh pemimpin atau anggota yang berpikir layaknya kuda dengan kacamata
kuda, terlalu lurus memandang, terlalu kerdil berpikir bahwa dunia itu cuma
satu warna berbau "logika", terlalu naif. Hal-hal halus
demikian sudah terjadi semenjak jaman tempo doeloe,
bahkan semenjak jaman para nabi hingga kini.
Padahal di negara-negara maju pun masih menggunakan metode halus ini. Di situs resmi dan tayangan FBI Files di
Discovery Channel, lembaga bergengsi itu mengakui pengunaan cara – cara
metafisika dalam pengungkapan kasus. FBI bahkan telah mengadakan riset
tersendiri tentang pengungkapan kejahatan menggunakan clairvoyant atau
seseorang yang bisa melihat pada lintas batas waktu dan jarak. Orang-orang
inilah yang di dunia Barat biasa disebut psychic detectives (detektif
cenayang). Beberapa informasi dari para detektif cenayang itu bisa digunakan
minimal untuk mempersempit ruang
pengejaran. Lebih dari itu, sejumlah paranormal yang telah membantu mendapat
serfikat dan dicatat sebagai ahli oleh FBI. Nah, jika memang ada jasa halus untuk kebaikan, tentu adakan jasa halus untuk Kejahatan ?
Satu-atunya cara untuk meminimalisir berbagai peristiwa "backstage" tersebut adalah secara bersama mendidik diri
dan kelompok dengan meningkatkan 5 kecerdasan atau daya rasa :
1. Kecerdasan Intelektual (knowledge/pengetahuan)
2. Kecerdasan Jasmani (skill/keahlian)
3. Kecerdasan Emosi (psychology/kejiwaan)
4. Kecerdasan Spiritual (agama/keyakinan positif)
5. Kecerdasan Laku (berbuat/amal/bergaul)
Tidak sedikit pemimpin/anggota sebuah komunitas yang menganggap bahwa kelima
hal tersebut tidak semuanya penting terutama poin ke 3 - 5. Mereka menganggap ketiga
hal tersebut urusan masing-masing yang penting tetap bersatu. Ya, mungkin
memang tetap bersatu tapi sebuah penyatuan yang tidak sehat, keluarga yang
kehilangan rasa kekeluargaan. Serasa seperti teh tawar. Ada namun hambar.
Bersatu karena kedudukan, ketenaran dan uang. Jika kedudukan, ketenaran dan
uang tidak lagi didapat atau kurang
maka akan segera meninggalkan atau bahkan bubar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar