Senin, 02 Desember 2013

"Gejolak halus" dalam "backstage" sebuah komunitas.

Oleh : Adri Prasetyo
Pendiri dan pembina POS
(Paguyuban Olah Seni)

 Komunitas adalah sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. Dalam komunitas manusia, individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko dan sejumlah kondisi lain yang serupa. Komunitas berasal dari bahasa latin communitas yang berarti "kesamaan", kemudian dapat diturunkan dari communis yang berarti "sama, publik, dibagi oleh semua atau banyak". (Wenger, 2002: 4). Menurut Crow dan Allan, Komunitas dapat terbagi menjadi 3 komponen:

Berdasarkan Lokasi atau Tempat
Wilayah atau tempat sebuah komunitas dapat dilihat sebagai tempat dimana sekumpulan orang mempunyai sesuatu yang sama secara geografis.

Berdasarkan Minat
Sekelompok orang yang mendirikan suatu komunitas karena mempunyai ketertarikan dan minat yang sama, misalnya agama, pekerjaan, suku, ras, maupun berdasarkan kelainan seksual.

Berdasarkan Komuni
Komuni dapat berarti ide dasar yang dapat mendukung komunitas itu sendiri.

Persatuan ide, tujuan, harapan dan impian bersama lah yang bisa membentuk dan menyatukan sebuah kelompok lalu segera dibarengi tindakan nyata bersama secara positif mewujudkan segala impian dan harapan tersebut secara continue.  Dan hal-hal semacam ini bisa berlangsung lama atau bahkan hanya sementara, semua tergantung impian yang kuat atau pimpinan yang bijak. Sebuah kelompok akan menjadi besar atau tetap kerdil bisa tergantung pula dari orang-orang didalamnya, apakah berpikir besar atau berpikil kerdil ? Jika yang berpikir kerdil hanya segelintir orang didalamnya, paling-paling jumlah komunitas itu yang menyusut namun tetap eksis. Tapi jika yang berpikir kerdil adalah sang pemimpin maka bisa dipastikan usia kelompok tersebut tidaklah panjang.

Karena besar atau kecilnya komunitas tetaplah berisi manusia. Dimana manusia tetap memiliki gejolak nya sebagai rangkaian individu yang hidup. Kelompok yang berisi orang-orang yang juga punya perasaan atau bahkan sudah menjadi watak aneka warna seperti : Cita-cita, obsesi, ambisi, iri hati, dengki, cemburu, cinta, duka, nafsu, senang bahagia, malas, semangat, trauma, egois, altruis, mood, benci, dendam, rindu, sensitif, prasangka-prasangka dan lain-lain. gejolak-gejolak ini yang sering kali menimbulkan pergesekan atau perpecahan dalam sebuah komunitas, apalagi jika sudah melepaskan gejolak melalui perbuatan nyata seperti : menjilat, memfitnah, mencibir, menjauhi, menyerang dengan kasar (kata-kata pedas) atau halus (menghasut) hingga berbagai serangan yang lebih halus dari yang paling halus yaitu serangan gaib (santet/pelet/sihir), jika orang yang bersangkutan punya koneksi kearah sana, meski seakan-akan dia orang yang tidak percaya hal-hal berbau klenik/mistis. Namun cara yang demikianlah yang dinilai paling halus dan rapih, "tidak berbau".

Peristiwa-peristiwa "backstage" inilah yang seringkali tidak disadari oleh pemimpin atau anggota yang berpikir layaknya kuda dengan kacamata kuda, terlalu lurus memandang, terlalu kerdil berpikir bahwa dunia itu cuma satu warna berbau "logika", terlalu naif. Hal-hal halus demikian sudah terjadi semenjak jaman tempo doeloe, bahkan semenjak jaman para nabi hingga kini.

Padahal di negara-negara maju pun masih menggunakan metode halus ini. Di situs resmi dan tayangan FBI Files di Discovery Channel, lembaga bergengsi itu mengakui pengunaan cara – cara metafisika dalam pengungkapan kasus. FBI bahkan telah mengadakan riset tersendiri tentang pengungkapan kejahatan menggunakan clairvoyant atau seseorang yang bisa melihat pada lintas batas waktu dan jarak. Orang-orang inilah yang di dunia Barat biasa disebut psychic detectives (detektif cenayang). Beberapa informasi dari para detektif cenayang itu bisa digunakan minimal untuk mempersempit ruang pengejaran. Lebih dari itu, sejumlah paranormal yang telah membantu mendapat serfikat dan dicatat sebagai ahli oleh FBI. Nah, jika memang ada jasa halus untuk kebaikan, tentu adakan jasa halus untuk Kejahatan ?

Satu-atunya cara untuk meminimalisir berbagai peristiwa "backstage" tersebut adalah secara bersama mendidik diri dan kelompok dengan meningkatkan 5 kecerdasan atau daya rasa :

1. Kecerdasan Intelektual (knowledge/pengetahuan)
2. Kecerdasan Jasmani (skill/keahlian)
3. Kecerdasan Emosi (psychology/kejiwaan)
4. Kecerdasan Spiritual (agama/keyakinan positif)
5. Kecerdasan Laku (berbuat/amal/bergaul)

Tidak sedikit pemimpin/anggota sebuah komunitas yang menganggap bahwa kelima hal tersebut tidak semuanya penting terutama poin ke 3 - 5. Mereka menganggap ketiga hal tersebut urusan masing-masing yang penting tetap bersatu. Ya, mungkin memang tetap bersatu tapi sebuah penyatuan yang tidak sehat, keluarga yang kehilangan rasa kekeluargaan. Serasa seperti teh tawar. Ada namun hambar. Bersatu karena kedudukan, ketenaran dan uang. Jika kedudukan, ketenaran dan uang tidak lagi didapat atau kurang maka akan segera meninggalkan atau bahkan bubar.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar