Pendiri dan pembina POS
(Paguyuban Olah Seni)
Fenomena maraknya artis-artis dadakan yang juga dadakan
selesainya didunia perfilman sehingga perlunya memunculkan berbagai sensasi
baru agar kembali laku adalah bukti adanya krisis seniman di Indonesia. Dimana masih
banyaknya seniman-seniman di negara ini tidak terlalu intensif mengasah
karya-karya diri dan masyarakat pecinta seni dengan edukasi yang berarti. Masih
banyak yang enggan melatih diri dan melatih calon-calon seniman muda, yang
dalam tulisan ini saya lebih membicarakan seniman didunia teater atau film,
aktor atau aktris seniman.
Banyak orang yang bermimpi menjadi artis karena terpancing
model "gaya hidup" artis. Sehingga berbondong-bondonglah mereka
mengikuti serangkaian casting yang terbuka untuk umum yang diadakan produser film
atau teater. Mereka yang memiliki berbagai latar belakang berbeda yang
rata-rata tidak pernah belajar keaktoran/akting, kalaupun sudah pernah itupun
cuma sebentar dan belum tajam. Nah, kalau sudah begini "mau tidak mau"
pihak produser film atau teater "terpaksa" melibatkan mereka di film/teater
yang mereka usung. Dari 100 orang aktor yang terlibat, paling-paling hanya 10
orang yang bisa berakting dengan bagus. Itupun 10 orang yang memang dibayar
mahal karena mereka artis terkenal, pintar atau senior. Dengan begini berarti
penonton akan tetap disuguhkan sebuah tontonan yang kurang "komplit" karena dari 100 "menu"
yang ada, hanya 10 yang sedia dan matang. Maka otomatis, sebagus apapun sutradaranya,
sebagus apapun naskah/ceritanya, semahal apapun biaya produksi yang
keluar, tetap saja masih tidak "komplit" bahkan terasa hambar di
"rasa" karena 90 "menu" yang ada masih belum siap dan "mentah".
Hal-hal demikianlah yang menyebabkan penonton di Indonesia lebih
memilih film horor atau seks atau film komedi ringan lainnya. Karena dengan
menonton film/teater yang "berat dan susah" namun di mainkan oleh
mereka yang masih mentah semakin
membuat penonton "gak ngerti" alias "bingung". Padahal film/teater
bermuatan "berat" yang diusung oleh sutradara-sutradara ternama dan
sangat pintar serta piawai dibidangnya tergolong sebuah cerita/naskah yang luar
biasa bagusnya. Namun memang hal ini tak bisa kita abaikan/pungkiri, karena
memang penonton kita butuh Hiburan
bukan sekedar hiburan.
Tidak sedikit seniman yang menyuguhkan sebuah pentas
panggung (teater) atau pentas layar kaca/layar lebar (film) menganggap penonton
enggan menonton karya mereka karena penonton disini "masih bodoh" ,
penonton "gak ngerti karya" sehingga
masih ada seniman yang mengatakan "yo
pantes aja mereka gak suka nonton
film/teater karya kita yang bagus, lha wong ora sinau". Tidak, menurut
saya tidak begitu. Penonton kita justru sudah pandai dan tahu mana film bagus
dan tidak . Buktinya film/teater luar negeri atau dalam negeri yang berkualitas
dan komplit tetap dibanjiri penonton.
Justru karena penonton kita sudah biasa
menonton suguhan berkualitas tersebut sehingga enggan nonton yang gak komplit apalagi gak enak.
Pertunjukan teater/film yang Komplit kalau menurut guru saya Nobertus Riantiarno atau akrab
dipanggil mas Nano (sutradara dan pendiri Teater Koma)
adalah pertunjukan/karya
yang enak dilihat, enak dirasa dan enak
didengar atas seluruh elemen dan detail yang ada didalamnya. Yaitu Audio
dan Visual yang indah. Beliau (mas Nano) juga mengatakan dalam salah satu
bukunya KITAB TEATER, bahwa "Jika sebuah pertunjukan kehilangan daya tarik
dan ditinggalkan penonton maka yang patut disalahkan adalah seniman. Bukan para
penonton, juga bukan masyarakat kesenian ataupun masyarakat umum. Mengapa?
Karena daya tarik pertunjukan datang dari seniman, dicipta oleh seniman.
Penonton hanya menonton, menikmati lalu menyerap-dengan mata, rasa, dan
hati-kemudian mencaci-maki atau memuji, atau menghargai dan berbagi.
Jika tak ada lagi yang berminat mempelajari pertunjukan,
yang patut disalahkan adalah para seniman pula, bukan pertunjukan itu sendiri
atau anggota masyarakat yang tak sudi datang untuk belajar. Mengapa? Karena
pertunjukan hadir dan bergulir bersama komunitas. Hakikat pertunjukan adalah
kebersamaan. Sudah terbukti sejak lama, bahwa, peristiwa dalam pertunjukan
dibangun secara kolektif. Peristiwa dalam pertunjukan lahir dari kegiatan
bersama. Ritual bersama.
Para seniman wajib mencipta komunitas kebersamaan, lalu
menjaganya, dan bukan malah mempertajam kesendirian. Sebuah pertunjukan
merupakan gabungan dari rasa, pikiran, dan tindakan. Rasa menajamkan kepekaan,
pikiran bisa melahirkan teori, dan tindakan menyatukan serta membuahkan hasil
nyata. Maka, jika terjadi penyimpangan (melulu kesendirian), kesinambungan bisa
mandek. Bisa jadi, pertunjukan kemudian akan dipandang sebagai alien,
"monster" yang mengerikan, egoistis, rumit, kompleks, tidak menarik
karena terfokus "hanya" kepada diri pribadi-personal, sangat
subjektif. Dianggap kegiatan yang hanya buang waktu dan buang energi belaka.
Lalu, pertunjukan pun akan dihindari. Akibatnya, pertunjukan bisa terpinggirkan
oleh masyarakatnya sendiri".
Nah, masihkah para seniman merasa enggan tuk turun kembali membina
dan menyediakan waktu serta tenaga mendidik
para calon aktor yang nantinya akan menjadi ujung tombak sebuah
pertunjukan dan nafas panjang sebuah kesenian ? masihkah juga para calon aktor
malas tuk belajar dan menimba ilmu pada bidang/profesi yang hendak mereka
geluti ? masihkah merasa bahwa dengan sudah main film/teater dan terkenal (apalagi
belum terkenal) menganggap tidak perlu lagi belajar dan melatih diri dengan
keras tuk menunjukkan kualitas ? masihkah berkutat pada hal-hal yang tidak
penting dan tidak mendatangkan ilmu lebih dekat ? masihkah menghabiskan waktu
dengan impian-impian kosong dan janji-janji bohong tanpa berbuat dengan
pembuktian diri yang kuat ? masihkah memilih mengeluarkan uang untuk hal-hal
yang buang-buang waktu dan membuang kesempatan mendapatkan ilmu ? masihkah membohongi
diri sendiri ? masihkah ? mau sampai kapan ???
Pic Episode Galau :







Tidak ada komentar:
Posting Komentar