Senin, 02 Desember 2013

Film atau Teater jelek, siapa yang salah ?

Oleh : Adri Prasetyo
Pendiri dan pembina POS
(Paguyuban Olah Seni)




Fenomena maraknya artis-artis dadakan yang juga dadakan selesainya didunia perfilman sehingga perlunya memunculkan berbagai sensasi baru agar kembali laku adalah bukti adanya krisis seniman di Indonesia. Dimana masih banyaknya seniman-seniman di negara ini tidak terlalu intensif mengasah karya-karya diri dan masyarakat pecinta seni dengan edukasi yang berarti. Masih banyak yang enggan melatih diri dan melatih calon-calon seniman muda, yang dalam tulisan ini saya lebih membicarakan seniman didunia teater atau film, aktor atau aktris seniman.

Banyak orang yang bermimpi menjadi artis karena terpancing model "gaya hidup" artis. Sehingga berbondong-bondonglah mereka mengikuti serangkaian casting yang terbuka untuk umum yang diadakan produser film atau teater. Mereka yang memiliki berbagai latar belakang berbeda yang rata-rata tidak pernah belajar keaktoran/akting, kalaupun sudah pernah itupun cuma sebentar dan belum tajam. Nah, kalau sudah begini "mau tidak mau" pihak produser film atau teater "terpaksa" melibatkan mereka di film/teater yang mereka usung. Dari 100 orang aktor yang terlibat, paling-paling hanya 10 orang yang bisa berakting dengan bagus. Itupun 10 orang yang memang dibayar mahal karena mereka artis terkenal, pintar atau senior. Dengan begini berarti penonton akan tetap disuguhkan sebuah tontonan yang kurang "komplit" karena dari 100 "menu" yang ada, hanya 10 yang sedia dan matang. Maka otomatis, sebagus apapun sutradaranya, sebagus apapun naskah/ceritanya, semahal apapun biaya produksi yang keluar, tetap saja masih tidak "komplit" bahkan terasa hambar di "rasa" karena 90 "menu" yang ada masih belum siap dan "mentah".  


Hal-hal demikianlah yang menyebabkan penonton di Indonesia lebih memilih film horor atau seks atau film komedi ringan lainnya. Karena dengan menonton film/teater yang "berat dan susah" namun di mainkan oleh mereka yang masih mentah semakin membuat penonton "gak ngerti" alias "bingung". Padahal film/teater bermuatan "berat" yang diusung oleh sutradara-sutradara ternama dan sangat pintar serta piawai dibidangnya tergolong sebuah cerita/naskah yang luar biasa bagusnya. Namun memang hal ini tak bisa kita abaikan/pungkiri, karena memang penonton kita butuh Hiburan bukan sekedar hiburan.

Tidak sedikit seniman yang menyuguhkan sebuah pentas panggung (teater) atau pentas layar kaca/layar lebar (film) menganggap penonton enggan menonton karya mereka karena penonton disini "masih bodoh" , penonton "gak ngerti karya" sehingga masih ada seniman yang mengatakan "yo pantes aja mereka gak suka nonton film/teater karya kita yang bagus, lha wong ora sinau". Tidak, menurut saya tidak begitu. Penonton kita justru sudah pandai dan tahu mana film bagus dan tidak . Buktinya film/teater luar negeri atau dalam negeri yang berkualitas dan komplit tetap dibanjiri penonton.  Justru karena penonton kita sudah biasa menonton suguhan berkualitas tersebut sehingga enggan nonton yang gak komplit apalagi gak enak.

Pertunjukan teater/film yang Komplit kalau menurut guru saya Nobertus Riantiarno atau akrab dipanggil mas Nano (sutradara dan pendiri Teater Koma)  


adalah pertunjukan/karya yang enak dilihat, enak dirasa dan enak didengar atas seluruh elemen dan detail yang ada didalamnya. Yaitu Audio dan Visual yang indah. Beliau (mas Nano) juga mengatakan dalam salah satu bukunya KITAB TEATER, bahwa "Jika sebuah pertunjukan kehilangan daya tarik dan ditinggalkan penonton maka yang patut disalahkan adalah seniman. Bukan para penonton, juga bukan masyarakat kesenian ataupun masyarakat umum. Mengapa? Karena daya tarik pertunjukan datang dari seniman, dicipta oleh seniman. Penonton hanya menonton, menikmati lalu menyerap-dengan mata, rasa, dan hati-kemudian mencaci-maki atau memuji, atau menghargai dan berbagi.


Jika tak ada lagi yang berminat mempelajari pertunjukan, yang patut disalahkan adalah para seniman pula, bukan pertunjukan itu sendiri atau anggota masyarakat yang tak sudi datang untuk belajar. Mengapa? Karena pertunjukan hadir dan bergulir bersama komunitas. Hakikat pertunjukan adalah kebersamaan. Sudah terbukti sejak lama, bahwa, peristiwa dalam pertunjukan dibangun secara kolektif. Peristiwa dalam pertunjukan lahir dari kegiatan bersama. Ritual bersama.



Para seniman wajib mencipta komunitas kebersamaan, lalu menjaganya, dan bukan malah mempertajam kesendirian. Sebuah pertunjukan merupakan gabungan dari rasa, pikiran, dan tindakan. Rasa menajamkan kepekaan, pikiran bisa melahirkan teori, dan tindakan menyatukan serta membuahkan hasil nyata. Maka, jika terjadi penyimpangan (melulu kesendirian), kesinambungan bisa mandek. Bisa jadi, pertunjukan kemudian akan dipandang sebagai alien, "monster" yang mengerikan, egoistis, rumit, kompleks, tidak menarik karena terfokus "hanya" kepada diri pribadi-personal, sangat subjektif. Dianggap kegiatan yang hanya buang waktu dan buang energi belaka. Lalu, pertunjukan pun akan dihindari. Akibatnya, pertunjukan bisa terpinggirkan oleh masyarakatnya sendiri".

Nah, masihkah para seniman merasa enggan tuk turun kembali membina dan menyediakan waktu serta tenaga mendidik  para calon aktor yang nantinya akan menjadi ujung tombak sebuah pertunjukan dan nafas panjang sebuah kesenian ? masihkah juga para calon aktor malas tuk belajar dan menimba ilmu pada bidang/profesi yang hendak mereka geluti ? masihkah merasa bahwa dengan sudah main film/teater dan terkenal (apalagi belum terkenal) menganggap tidak perlu lagi belajar dan melatih diri dengan keras tuk menunjukkan kualitas ? masihkah berkutat pada hal-hal yang tidak penting dan tidak mendatangkan ilmu lebih dekat ? masihkah menghabiskan waktu dengan impian-impian kosong dan janji-janji bohong tanpa berbuat dengan pembuktian diri yang kuat ? masihkah memilih mengeluarkan uang untuk hal-hal yang buang-buang waktu dan membuang kesempatan mendapatkan ilmu ? masihkah membohongi diri sendiri ? masihkah ? mau sampai kapan ???


 Pic Episode Galau :

















Tidak ada komentar:

Posting Komentar