Dalam perkembangannya seni akting atau keaktoran mulai
mengalami penurunan kualitas karena semakin maraknya pelajaran-pelajaran akting
instant atau aktor dadakan. Banyak
tawaran program 3-6 bulan dan langsung bisa akting. Sementara sangat berbeda
dengan aktor profesional yang dalam pencarian watak/karakter dari tokoh yang
dia perankan memerlukan waktu selama 3-6 bulan bahkan ada yang sampai satu
tahun untuk mempelajari satu
karakter.
Hal ini (akting instant) mungkin bisa dilakukan bagi
aktor-aktor pemula, hanya sebatas memperkenalkan "kulit" nya saja, bahkan bisa di bilang lebih luar dari kulit yakni "bulu".
Hanya sekedar agar calon aktor bisa berlaku benar dalam melakukan reading, dramatic reading, moving
act/blocking. Sekedar benar intonasi, artikulasi, ekspresinya dan
lain-lain. Namun apakah "kulit" dan "bulu" ini cukup untuk memainkan peran/ watak/ tokoh yang
benar-benar "hidup" dan memiliki jiwa? Cukupkah pelajaran intonasi,
artikulasi, ekspresi dan lain-lain itu tuk seorang aktor bisa dikatakan bermain
bagus atas peran yang dimainkan?
Pernah dalam satu kelas saya mengajarkan istilah "jangan
akting" untuk murid-murid saya. Ini saya tekankan tuk mereka agar mereka
lebih bisa bermain wajar/ natural dan tidak bermain palsu atau over-acting. Supaya
mereka bisa lebih tenang bermain menjadi "diri sendiri" karena untuk
saat ini mereka baru pada tahap mengenal diri
sendiri. Setidaknya dengan memainkan diri sendiri, akting mereka bisa lebih terlihat wajar dan indah
atas segala kekurangan skill tubuh yang
mereka miliki. Setidaknya mereka bisa akting menangis tanpa bantuan obat tetes
mata atau bawang bombay atau apalah. Namun sekali lagi ini hanya dasar, sangat
dasar. Karena jika dengan ilmu ini mereka merasa
cukup untuk memainkan berbagai peranan dan tidak perlu lagi menggali tingkat
lanjutan yakni tingkat yang sedikit di atas dasar (belum advance) maka yang akan mereka suguhkan pada penonton
atas tiap-tiap tokoh yang mereka perankan adalah diri sendiri. Dan itu pasti sangat bikin BOSAN.
Kesalah pahaman ini harus diluruskan, karena akting bukan
sekedar akting. Akting adalah SENI menyerap
seluruh daya hidup karakter lain. Akting adalah rangkaian elemen sejarah, sosiologi,
geografi, psikologi, filosofi dari suatu Tokoh atau Karakter yang diserap lalu
disatukan kedalam pikiran, tubuh dan jiwa aktor. Dan ini memang memerlukan
waktu. Waktu yang sangat panjang. Semua tergantung tingkat bakat dan kecerdasan
yang dimiliki aktor. Bisa cepat, bisa lambat, atau bisa tidak berhasil sama
sekali (jika tidak berbakat & malas).
Banyak aktor muda atau tua
yang masih sibuk dengan ilmu akting tingkat dasar tersebut. Mereka
menganggap akting itu bukan merupakan skill
and art sehingga tak perlu latihan-latihan akting dan kedisiplinan
mempelajari peran, cukup menunjukkan karisma
diri dan semua akan baik-baik saja.
mereka menganggap bahwa akting cuma sebatas mengucapkan
dialog dan bisa akting marah atau menangis itu sudah cukup. Tidak, ini tidak betul. Kenapa? Karena berakting cukup
menjadi diri sendiri itu bisa menghancurkan jika terus menerus
dipertontonkan. Ini akan menjadi suatu pola akting yang akhirnya begitu-begitu
saja dan tidak berkembang. Paling-paling yang berkembang cuma mukanya saja yang
tambah tua, lalu berganti peran jadi
orang tua.
Seni Akting memerlukan skill dan kedisiplinan tinggi lalu
menjadikan satu seluruh elemen artistik antara kefahaman penulis, kefahaman
aktor & kefahaman sutradara. Seni akting memerlukan kajian dan pengembangan
intelektual dan spiritual secara terus menerus karena karakter manusia itu
kompleks dan tak terbatas untuk di pelajari. Seni akting bukan sekedar job sambilan tuk mencari ketenaran &
uang. Seni akting adalah masterpiece sebuah karya hidup dari
sekelumit torehan tinta kehidupan nyata. It's an ART, not a FART.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar