Selasa, 24 Desember 2013

"Jangan akting" adalah tingkat dasar

Oleh : Adri Prasetyo [Pendiri & Pembina Paguyuban Olah Seni]


Dalam perkembangannya seni akting atau keaktoran mulai mengalami penurunan kualitas karena semakin maraknya pelajaran-pelajaran akting instant atau aktor dadakan.  Banyak tawaran program 3-6 bulan dan langsung bisa akting. Sementara sangat berbeda dengan aktor profesional yang dalam pencarian watak/karakter dari tokoh yang dia perankan memerlukan waktu selama 3-6 bulan bahkan ada yang sampai satu tahun untuk mempelajari satu karakter.

Hal ini (akting instant) mungkin bisa dilakukan bagi aktor-aktor pemula, hanya sebatas memperkenalkan "kulit" nya saja, bahkan bisa di bilang lebih luar dari kulit yakni "bulu". Hanya sekedar agar calon aktor bisa berlaku benar dalam melakukan reading, dramatic reading, moving act/blocking. Sekedar benar intonasi, artikulasi, ekspresinya dan lain-lain. Namun apakah "kulit" dan "bulu" ini cukup untuk memainkan peran/ watak/ tokoh yang benar-benar "hidup" dan memiliki jiwa? Cukupkah pelajaran intonasi, artikulasi, ekspresi dan lain-lain itu tuk seorang aktor bisa dikatakan bermain bagus atas peran yang dimainkan?

Pernah dalam satu kelas saya mengajarkan istilah "jangan akting" untuk murid-murid saya. Ini saya tekankan tuk mereka agar mereka lebih bisa bermain wajar/ natural dan tidak bermain palsu atau over-acting. Supaya mereka bisa lebih tenang bermain menjadi "diri sendiri" karena untuk saat ini mereka baru pada tahap mengenal diri sendiri. Setidaknya dengan memainkan diri sendiri, akting mereka bisa lebih terlihat wajar dan indah atas segala kekurangan skill tubuh yang mereka miliki. Setidaknya mereka bisa akting menangis tanpa bantuan obat tetes mata atau bawang bombay atau apalah. Namun sekali lagi ini hanya dasar, sangat dasar. Karena jika dengan ilmu ini mereka merasa cukup untuk memainkan berbagai peranan dan tidak perlu lagi menggali tingkat lanjutan yakni tingkat yang sedikit di atas dasar (belum advance) maka yang akan mereka suguhkan pada penonton atas tiap-tiap tokoh yang mereka perankan adalah diri sendiri. Dan itu pasti sangat bikin BOSAN.

Kesalah pahaman ini harus diluruskan, karena akting bukan sekedar akting. Akting adalah SENI menyerap seluruh daya hidup karakter lain. Akting adalah rangkaian elemen sejarah, sosiologi, geografi, psikologi, filosofi dari suatu Tokoh atau Karakter yang diserap lalu disatukan kedalam pikiran, tubuh dan jiwa aktor. Dan ini memang memerlukan waktu. Waktu yang sangat panjang. Semua tergantung tingkat bakat dan kecerdasan yang dimiliki aktor. Bisa cepat, bisa lambat, atau bisa tidak berhasil sama sekali (jika tidak berbakat & malas).

Banyak aktor muda atau tua yang masih sibuk dengan ilmu akting tingkat dasar tersebut. Mereka menganggap akting itu bukan merupakan skill and art sehingga tak perlu latihan-latihan akting dan kedisiplinan mempelajari peran, cukup menunjukkan karisma diri dan semua akan baik-baik saja. mereka menganggap bahwa akting cuma sebatas mengucapkan dialog dan bisa akting marah atau menangis itu sudah cukup. Tidak, ini tidak betul. Kenapa? Karena berakting cukup menjadi diri sendiri itu bisa menghancurkan jika terus menerus dipertontonkan. Ini akan menjadi suatu  pola akting yang akhirnya begitu-begitu saja dan tidak berkembang. Paling-paling yang berkembang cuma mukanya saja yang tambah tua, lalu berganti peran jadi orang tua.

Seni Akting memerlukan skill dan kedisiplinan tinggi lalu menjadikan satu seluruh elemen artistik antara kefahaman penulis, kefahaman aktor & kefahaman sutradara. Seni akting memerlukan kajian dan pengembangan intelektual dan spiritual secara terus menerus karena karakter manusia itu kompleks dan tak terbatas untuk di pelajari. Seni akting bukan sekedar job sambilan tuk mencari ketenaran & uang. Seni akting adalah masterpiece sebuah karya hidup dari sekelumit torehan tinta kehidupan nyata. It's an ART, not a FART.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar