Sabtu, 28 Desember 2013
Selasa, 24 Desember 2013
"Jangan akting" adalah tingkat dasar
Oleh : Adri Prasetyo [Pendiri & Pembina Paguyuban Olah Seni]
Dalam perkembangannya seni akting atau keaktoran mulai
mengalami penurunan kualitas karena semakin maraknya pelajaran-pelajaran akting
instant atau aktor dadakan. Banyak
tawaran program 3-6 bulan dan langsung bisa akting. Sementara sangat berbeda
dengan aktor profesional yang dalam pencarian watak/karakter dari tokoh yang
dia perankan memerlukan waktu selama 3-6 bulan bahkan ada yang sampai satu
tahun untuk mempelajari satu
karakter.
Hal ini (akting instant) mungkin bisa dilakukan bagi
aktor-aktor pemula, hanya sebatas memperkenalkan "kulit" nya saja, bahkan bisa di bilang lebih luar dari kulit yakni "bulu".
Hanya sekedar agar calon aktor bisa berlaku benar dalam melakukan reading, dramatic reading, moving
act/blocking. Sekedar benar intonasi, artikulasi, ekspresinya dan
lain-lain. Namun apakah "kulit" dan "bulu" ini cukup untuk memainkan peran/ watak/ tokoh yang
benar-benar "hidup" dan memiliki jiwa? Cukupkah pelajaran intonasi,
artikulasi, ekspresi dan lain-lain itu tuk seorang aktor bisa dikatakan bermain
bagus atas peran yang dimainkan?
Pernah dalam satu kelas saya mengajarkan istilah "jangan
akting" untuk murid-murid saya. Ini saya tekankan tuk mereka agar mereka
lebih bisa bermain wajar/ natural dan tidak bermain palsu atau over-acting. Supaya
mereka bisa lebih tenang bermain menjadi "diri sendiri" karena untuk
saat ini mereka baru pada tahap mengenal diri
sendiri. Setidaknya dengan memainkan diri sendiri, akting mereka bisa lebih terlihat wajar dan indah
atas segala kekurangan skill tubuh yang
mereka miliki. Setidaknya mereka bisa akting menangis tanpa bantuan obat tetes
mata atau bawang bombay atau apalah. Namun sekali lagi ini hanya dasar, sangat
dasar. Karena jika dengan ilmu ini mereka merasa
cukup untuk memainkan berbagai peranan dan tidak perlu lagi menggali tingkat
lanjutan yakni tingkat yang sedikit di atas dasar (belum advance) maka yang akan mereka suguhkan pada penonton
atas tiap-tiap tokoh yang mereka perankan adalah diri sendiri. Dan itu pasti sangat bikin BOSAN.
Kesalah pahaman ini harus diluruskan, karena akting bukan
sekedar akting. Akting adalah SENI menyerap
seluruh daya hidup karakter lain. Akting adalah rangkaian elemen sejarah, sosiologi,
geografi, psikologi, filosofi dari suatu Tokoh atau Karakter yang diserap lalu
disatukan kedalam pikiran, tubuh dan jiwa aktor. Dan ini memang memerlukan
waktu. Waktu yang sangat panjang. Semua tergantung tingkat bakat dan kecerdasan
yang dimiliki aktor. Bisa cepat, bisa lambat, atau bisa tidak berhasil sama
sekali (jika tidak berbakat & malas).
Banyak aktor muda atau tua
yang masih sibuk dengan ilmu akting tingkat dasar tersebut. Mereka
menganggap akting itu bukan merupakan skill
and art sehingga tak perlu latihan-latihan akting dan kedisiplinan
mempelajari peran, cukup menunjukkan karisma
diri dan semua akan baik-baik saja.
mereka menganggap bahwa akting cuma sebatas mengucapkan
dialog dan bisa akting marah atau menangis itu sudah cukup. Tidak, ini tidak betul. Kenapa? Karena berakting cukup
menjadi diri sendiri itu bisa menghancurkan jika terus menerus
dipertontonkan. Ini akan menjadi suatu pola akting yang akhirnya begitu-begitu
saja dan tidak berkembang. Paling-paling yang berkembang cuma mukanya saja yang
tambah tua, lalu berganti peran jadi
orang tua.
Seni Akting memerlukan skill dan kedisiplinan tinggi lalu
menjadikan satu seluruh elemen artistik antara kefahaman penulis, kefahaman
aktor & kefahaman sutradara. Seni akting memerlukan kajian dan pengembangan
intelektual dan spiritual secara terus menerus karena karakter manusia itu
kompleks dan tak terbatas untuk di pelajari. Seni akting bukan sekedar job sambilan tuk mencari ketenaran &
uang. Seni akting adalah masterpiece sebuah karya hidup dari
sekelumit torehan tinta kehidupan nyata. It's an ART, not a FART.
Sabtu, 07 Desember 2013
Setia itu "Aku" atau "Kamu" ?
oleh : Adri Prasetyo
(manusia biasa yang juga
punya kesalahan)
"AKU" atau "KAMU" yang sebenarnya
SETIA ?
"Aku" rasa sudah waktunya bagi "aku"
mengungkapkan apa yang "aku" rasa tentang "kamu" agar apa yang kurasa ini tak bermetamorfosa menjadi batu yang nantinya "aku" takut kalau membuat hati "aku" sekeras batu. Hal ini
harus, karena "aku" mau memulai sesuatu yang baru. suatu jalan
perbaikan, setidaknya langkah hidup untuk keluarga kecil "aku". Bukan
lagi untuk "kamu". ingat, itu bukan untuk "kamu".
Begini, Ingatkah "kamu" selama ini "kamu" menuntut sebuah pengabdian dan kesetiaan, kekeluargaan atau apalah namanya. Iya, "aku" masih ingat betul hal itu. sangat jelas masih bergelora didada "aku" yang makanya "aku" menempuh jalan ini. Jalan yang semestinya tidak perlu terjadi dan sama sekali tidak aku ingini. Namun Kamu juga tahu betul bahwa ada yang namanya hukum "SEBAB-AKIBAT".
Begini, Ingatkah "kamu" selama ini "kamu" menuntut sebuah pengabdian dan kesetiaan, kekeluargaan atau apalah namanya. Iya, "aku" masih ingat betul hal itu. sangat jelas masih bergelora didada "aku" yang makanya "aku" menempuh jalan ini. Jalan yang semestinya tidak perlu terjadi dan sama sekali tidak aku ingini. Namun Kamu juga tahu betul bahwa ada yang namanya hukum "SEBAB-AKIBAT".
Coba, apa "kamu" masih ingat berapa tahun "aku"
mendampingi "kamu" dan selalu menuruti "kamu" ? tidak ingat
? mungkin lupa karena "kamu" sudah tua atau belum tua tapi sudah sok
tua. berapa kali "aku" menimang-nimang putra "kamu" dan
keluarga "kamu" untuk membahagiakan "kamu" ? berapa kali "aku"
menghormati "kamu" , putra "kamu" dan keluarga "kamu"
dengan sering menghadiri acaranya, bahkan ikut berjibaku menghias dan mendandani
segala agar sukses besar acara apapun yang "kamu" usung. Tak
terhitung pula berapa kali "aku" menembus jarak dan hujan lebat tuk mengusung nilai
kekeluargaan, kesetiaan, pengabdian yang "kamu" dan keluarga "kamu"
gembar-gemborkan itu.
Tapi coba lihat sekarang. sadarkah "kamu" kalau
"kamu" dan keluarga "kamu" sudah banyak melakukan hal terbalik
dari apa yang "kamu" gemborkan itu ? sadarkah "kamu" kalau "kamu"
inginnya selalu dipedulikan, disapa terlebih dahulu, diberi senyum manis penuh
sopan santun tapi kalau "aku" tidak beri itu "kamu" bilang
"aku tak punya rasa hormat" ? sadarkah "kamu" saat-saat "kamu"
berpapasan dengan "aku" "kamu" tak pernah mau tegur bahkan
tersenyum pada "aku" sementara kepada perempuan-perempuan muda itu "kamu"
bersikap begitu lembut & manis ? dan ingatkah saat disatu kesempatan "aku"
tak bisa menghampirimu karena suatu perlu "kamu" bilang bahwa "aku"
yang sombong dan angkuh ? siapa yang
sebenarnya angkuh dan sombong ?
tahukah kamu bahwa orang yang di-atas-lah
yang lebih memiliki godaan untuk itu
?
Satu hal saja "aku" mau ungkapkan dan
pertanyakan dari sekian banyak pertanyaan "aku" tentang sebuah keluarga dan kesetiaannya. Tentang sekian banyak hal terbalik dimana "kamu" ingin "aku" berbuat untuk "kamu" dan keluarga "kamu" tapi "kamu" lebih sering
menolak berbuat untuk "aku"
dengan berbagai alasan. satu hal saja
pertanyaanku. satu saja.
PERNAHKAH
"KAMU" KERUMAHKU & SUDI MELIHAT PUTRAKU YANG JUGA KEPONAKAN
"KAMU" ?
iya mungkin, beberapa "kamu" pernah kerumah tapi
itu juga bukan karena putra "aku" kan ? itu karena "kamu"
punya hajat dan keperluan juga bantuan "aku" kan ? bukan sebuah
inisiatif yang lahir sungguh-sungguh karena peduli. Bukan lantaran sebuah kesetiaan.
Jadi maaf jika mulai kini JANGAN pernah menuntut
MACAM-MACAM padaku meski "aku" akan tetap melakukan yang TERBAIK yang
"aku" bisa. Tapi bukan untuk "kamu" atau keluarga "kamu"
tapi untuk CINTA ku terhadap putraku. Ingat itu. Ingat.......
Kali ini juga aku tak hendak sedikitpun meminta maaf.
Kita sesama manusia cuma beda usia. kita sama-sama hidup dan bernaung di dunia
fana. Manusia punya hak hidup dan hak diperlakukan seimbang dan wajar setelah
sudah melaksanakan kewajiban. Tuhan punya ketentuan yang bernama sunatullah atau hukum
sebab-akibat yang nyata.
Nb. "aku" & "kamu" adalah untuk semua
yang ikut merasakan hal serupa.
Senin, 02 Desember 2013
Film atau Teater jelek, siapa yang salah ?
Oleh : Adri Prasetyo
Pendiri dan pembina POS
(Paguyuban Olah Seni)
Pendiri dan pembina POS
(Paguyuban Olah Seni)
Fenomena maraknya artis-artis dadakan yang juga dadakan
selesainya didunia perfilman sehingga perlunya memunculkan berbagai sensasi
baru agar kembali laku adalah bukti adanya krisis seniman di Indonesia. Dimana masih
banyaknya seniman-seniman di negara ini tidak terlalu intensif mengasah
karya-karya diri dan masyarakat pecinta seni dengan edukasi yang berarti. Masih
banyak yang enggan melatih diri dan melatih calon-calon seniman muda, yang
dalam tulisan ini saya lebih membicarakan seniman didunia teater atau film,
aktor atau aktris seniman.
Banyak orang yang bermimpi menjadi artis karena terpancing
model "gaya hidup" artis. Sehingga berbondong-bondonglah mereka
mengikuti serangkaian casting yang terbuka untuk umum yang diadakan produser film
atau teater. Mereka yang memiliki berbagai latar belakang berbeda yang
rata-rata tidak pernah belajar keaktoran/akting, kalaupun sudah pernah itupun
cuma sebentar dan belum tajam. Nah, kalau sudah begini "mau tidak mau"
pihak produser film atau teater "terpaksa" melibatkan mereka di film/teater
yang mereka usung. Dari 100 orang aktor yang terlibat, paling-paling hanya 10
orang yang bisa berakting dengan bagus. Itupun 10 orang yang memang dibayar
mahal karena mereka artis terkenal, pintar atau senior. Dengan begini berarti
penonton akan tetap disuguhkan sebuah tontonan yang kurang "komplit" karena dari 100 "menu"
yang ada, hanya 10 yang sedia dan matang. Maka otomatis, sebagus apapun sutradaranya,
sebagus apapun naskah/ceritanya, semahal apapun biaya produksi yang
keluar, tetap saja masih tidak "komplit" bahkan terasa hambar di
"rasa" karena 90 "menu" yang ada masih belum siap dan "mentah".
Hal-hal demikianlah yang menyebabkan penonton di Indonesia lebih
memilih film horor atau seks atau film komedi ringan lainnya. Karena dengan
menonton film/teater yang "berat dan susah" namun di mainkan oleh
mereka yang masih mentah semakin
membuat penonton "gak ngerti" alias "bingung". Padahal film/teater
bermuatan "berat" yang diusung oleh sutradara-sutradara ternama dan
sangat pintar serta piawai dibidangnya tergolong sebuah cerita/naskah yang luar
biasa bagusnya. Namun memang hal ini tak bisa kita abaikan/pungkiri, karena
memang penonton kita butuh Hiburan
bukan sekedar hiburan.
Tidak sedikit seniman yang menyuguhkan sebuah pentas
panggung (teater) atau pentas layar kaca/layar lebar (film) menganggap penonton
enggan menonton karya mereka karena penonton disini "masih bodoh" ,
penonton "gak ngerti karya" sehingga
masih ada seniman yang mengatakan "yo
pantes aja mereka gak suka nonton
film/teater karya kita yang bagus, lha wong ora sinau". Tidak, menurut
saya tidak begitu. Penonton kita justru sudah pandai dan tahu mana film bagus
dan tidak . Buktinya film/teater luar negeri atau dalam negeri yang berkualitas
dan komplit tetap dibanjiri penonton.
Justru karena penonton kita sudah biasa
menonton suguhan berkualitas tersebut sehingga enggan nonton yang gak komplit apalagi gak enak.
Pertunjukan teater/film yang Komplit kalau menurut guru saya Nobertus Riantiarno atau akrab
dipanggil mas Nano (sutradara dan pendiri Teater Koma)
adalah pertunjukan/karya
yang enak dilihat, enak dirasa dan enak
didengar atas seluruh elemen dan detail yang ada didalamnya. Yaitu Audio
dan Visual yang indah. Beliau (mas Nano) juga mengatakan dalam salah satu
bukunya KITAB TEATER, bahwa "Jika sebuah pertunjukan kehilangan daya tarik
dan ditinggalkan penonton maka yang patut disalahkan adalah seniman. Bukan para
penonton, juga bukan masyarakat kesenian ataupun masyarakat umum. Mengapa?
Karena daya tarik pertunjukan datang dari seniman, dicipta oleh seniman.
Penonton hanya menonton, menikmati lalu menyerap-dengan mata, rasa, dan
hati-kemudian mencaci-maki atau memuji, atau menghargai dan berbagi.
Jika tak ada lagi yang berminat mempelajari pertunjukan,
yang patut disalahkan adalah para seniman pula, bukan pertunjukan itu sendiri
atau anggota masyarakat yang tak sudi datang untuk belajar. Mengapa? Karena
pertunjukan hadir dan bergulir bersama komunitas. Hakikat pertunjukan adalah
kebersamaan. Sudah terbukti sejak lama, bahwa, peristiwa dalam pertunjukan
dibangun secara kolektif. Peristiwa dalam pertunjukan lahir dari kegiatan
bersama. Ritual bersama.
Para seniman wajib mencipta komunitas kebersamaan, lalu
menjaganya, dan bukan malah mempertajam kesendirian. Sebuah pertunjukan
merupakan gabungan dari rasa, pikiran, dan tindakan. Rasa menajamkan kepekaan,
pikiran bisa melahirkan teori, dan tindakan menyatukan serta membuahkan hasil
nyata. Maka, jika terjadi penyimpangan (melulu kesendirian), kesinambungan bisa
mandek. Bisa jadi, pertunjukan kemudian akan dipandang sebagai alien,
"monster" yang mengerikan, egoistis, rumit, kompleks, tidak menarik
karena terfokus "hanya" kepada diri pribadi-personal, sangat
subjektif. Dianggap kegiatan yang hanya buang waktu dan buang energi belaka.
Lalu, pertunjukan pun akan dihindari. Akibatnya, pertunjukan bisa terpinggirkan
oleh masyarakatnya sendiri".
Nah, masihkah para seniman merasa enggan tuk turun kembali membina
dan menyediakan waktu serta tenaga mendidik
para calon aktor yang nantinya akan menjadi ujung tombak sebuah
pertunjukan dan nafas panjang sebuah kesenian ? masihkah juga para calon aktor
malas tuk belajar dan menimba ilmu pada bidang/profesi yang hendak mereka
geluti ? masihkah merasa bahwa dengan sudah main film/teater dan terkenal (apalagi
belum terkenal) menganggap tidak perlu lagi belajar dan melatih diri dengan
keras tuk menunjukkan kualitas ? masihkah berkutat pada hal-hal yang tidak
penting dan tidak mendatangkan ilmu lebih dekat ? masihkah menghabiskan waktu
dengan impian-impian kosong dan janji-janji bohong tanpa berbuat dengan
pembuktian diri yang kuat ? masihkah memilih mengeluarkan uang untuk hal-hal
yang buang-buang waktu dan membuang kesempatan mendapatkan ilmu ? masihkah membohongi
diri sendiri ? masihkah ? mau sampai kapan ???
Pic Episode Galau :
"Gejolak halus" dalam "backstage" sebuah komunitas.
Oleh : Adri Prasetyo
Pendiri dan pembina POS
(Paguyuban Olah Seni)
Komunitas adalah sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. Dalam komunitas manusia, individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko dan sejumlah kondisi lain yang serupa. Komunitas berasal dari bahasa latin communitas yang berarti "kesamaan", kemudian dapat diturunkan dari communis yang berarti "sama, publik, dibagi oleh semua atau banyak". (Wenger, 2002: 4). Menurut Crow dan Allan, Komunitas dapat terbagi menjadi 3 komponen:
Berdasarkan Lokasi atau Tempat
Wilayah atau
tempat sebuah komunitas dapat dilihat sebagai tempat dimana sekumpulan orang
mempunyai sesuatu yang sama secara geografis.
Berdasarkan Minat
Sekelompok
orang yang mendirikan suatu komunitas karena mempunyai ketertarikan dan minat
yang sama, misalnya agama, pekerjaan, suku, ras, maupun berdasarkan kelainan seksual.
Berdasarkan Komuni
Komuni dapat
berarti ide dasar yang dapat mendukung komunitas itu sendiri.
Persatuan
ide, tujuan, harapan dan impian bersama lah yang bisa membentuk
dan menyatukan sebuah kelompok lalu segera dibarengi tindakan nyata bersama secara positif mewujudkan segala impian dan harapan
tersebut secara continue. Dan hal-hal semacam ini bisa berlangsung lama
atau bahkan hanya sementara, semua tergantung impian yang kuat atau pimpinan yang bijak. Sebuah kelompok
akan menjadi besar atau tetap kerdil bisa tergantung pula dari orang-orang
didalamnya, apakah berpikir besar
atau berpikil kerdil ? Jika yang
berpikir kerdil hanya segelintir orang didalamnya, paling-paling jumlah
komunitas itu yang menyusut namun tetap eksis.
Tapi jika yang berpikir kerdil
adalah sang pemimpin maka bisa dipastikan usia kelompok tersebut tidaklah panjang.
Karena besar
atau kecilnya komunitas tetaplah berisi manusia. Dimana manusia tetap memiliki gejolak nya sebagai rangkaian individu
yang hidup. Kelompok yang berisi
orang-orang yang juga punya perasaan atau bahkan sudah menjadi watak aneka
warna seperti : Cita-cita, obsesi, ambisi, iri hati, dengki, cemburu, cinta,
duka, nafsu, senang bahagia, malas, semangat, trauma, egois, altruis, mood, benci,
dendam, rindu, sensitif, prasangka-prasangka dan lain-lain. gejolak-gejolak ini yang sering kali
menimbulkan pergesekan atau perpecahan dalam sebuah komunitas, apalagi jika
sudah melepaskan gejolak melalui
perbuatan nyata seperti : menjilat, memfitnah, mencibir, menjauhi, menyerang
dengan kasar (kata-kata pedas) atau
halus (menghasut) hingga berbagai serangan yang lebih halus dari yang paling
halus yaitu serangan gaib (santet/pelet/sihir), jika orang yang bersangkutan
punya koneksi kearah sana, meski seakan-akan
dia orang yang tidak percaya hal-hal berbau klenik/mistis. Namun cara yang
demikianlah yang dinilai paling halus
dan rapih, "tidak berbau".
Peristiwa-peristiwa "backstage" inilah yang seringkali tidak
disadari oleh pemimpin atau anggota yang berpikir layaknya kuda dengan kacamata
kuda, terlalu lurus memandang, terlalu kerdil berpikir bahwa dunia itu cuma
satu warna berbau "logika", terlalu naif. Hal-hal halus
demikian sudah terjadi semenjak jaman tempo doeloe,
bahkan semenjak jaman para nabi hingga kini.
Padahal di negara-negara maju pun masih menggunakan metode halus ini. Di situs resmi dan tayangan FBI Files di
Discovery Channel, lembaga bergengsi itu mengakui pengunaan cara – cara
metafisika dalam pengungkapan kasus. FBI bahkan telah mengadakan riset
tersendiri tentang pengungkapan kejahatan menggunakan clairvoyant atau
seseorang yang bisa melihat pada lintas batas waktu dan jarak. Orang-orang
inilah yang di dunia Barat biasa disebut psychic detectives (detektif
cenayang). Beberapa informasi dari para detektif cenayang itu bisa digunakan
minimal untuk mempersempit ruang
pengejaran. Lebih dari itu, sejumlah paranormal yang telah membantu mendapat
serfikat dan dicatat sebagai ahli oleh FBI. Nah, jika memang ada jasa halus untuk kebaikan, tentu adakan jasa halus untuk Kejahatan ?
Satu-atunya cara untuk meminimalisir berbagai peristiwa "backstage" tersebut adalah secara bersama mendidik diri
dan kelompok dengan meningkatkan 5 kecerdasan atau daya rasa :
1. Kecerdasan Intelektual (knowledge/pengetahuan)
2. Kecerdasan Jasmani (skill/keahlian)
3. Kecerdasan Emosi (psychology/kejiwaan)
4. Kecerdasan Spiritual (agama/keyakinan positif)
5. Kecerdasan Laku (berbuat/amal/bergaul)
Tidak sedikit pemimpin/anggota sebuah komunitas yang menganggap bahwa kelima
hal tersebut tidak semuanya penting terutama poin ke 3 - 5. Mereka menganggap ketiga
hal tersebut urusan masing-masing yang penting tetap bersatu. Ya, mungkin
memang tetap bersatu tapi sebuah penyatuan yang tidak sehat, keluarga yang
kehilangan rasa kekeluargaan. Serasa seperti teh tawar. Ada namun hambar.
Bersatu karena kedudukan, ketenaran dan uang. Jika kedudukan, ketenaran dan
uang tidak lagi didapat atau kurang
maka akan segera meninggalkan atau bahkan bubar.
Minggu, 01 Desember 2013
Video
Pentas Teater dan aktifitas saya di panggung sandiwara :
Klik Link :
"Antigoneo" oleh Teater Koma
"Sie Jin Kwie Kena fitnah" oleh Teater Koma
Drama Musical "Cinta Mentari" (latihan)
Karantina HiLo Green Ambassador 2012
L-Men 2012 Acting Class
Underdogkickass on Kompas TV
Liputan 6 Teater Koma Kenapa Leornado
Ruqyah Syar'iyah (Pengobatan metode Islam)
Kata ruqyah berasal
dari bahasa Arab raqa', raqyan, ruqiyyan wa ruqyatan (رقى رَقيا رُقياّ ورقية ).
Ahmad Warson Munawwir, dalam Kamus Arab-Indonesia menerjemahkannya dengan
mantra. Hans Wehr, dalam bukunya “A Dictionary of Modern Written Arabic”,
menulis bahwa ruqyah berarti spell. Sedangkan John M.Echols dan
Hassan Shadily dalam Kamus Inggris- Indonesia menulis bahwa spell artinya
jampi, mantra (sihir). Ibrahim Anis dalam Kamus al-Mu’jam al-Wasi
mengartikan ruqyah sebagai perlindungan (الرقية
العُوذة), sedangkan Ibn Taymiyah
memasukkannya dalam kategori doa atau permohonan ( من
أنواع الدعاء). Pendapat bahwa ruqyah
itu termasuk doa (الرقية وهي الدعاء) juga dikemukakan oleh Ibn al-Qayyim
al-Jawziyah.
Banyak orang yang salah paham akan kegunaan terapi
ruqyah. Mereka mengira bahwa ruqyah hanya untuk terapi gangguan jin, penyakit
non medis atau sakit jiwa. Padahal ruqyah itu adalah bagian dari do’a.
Sebagaimana kita berdo’a kepada Allah, kita memohon kepada-Nya tidak hanya
masalah akhirat, tapi juga masalah dunia. Selamat dari petaka dan bencana,
lancar rizki, badan sehat, sukses dalam bekerja dan berkarir, lancar dalam
usaha dan bisnis, serta hajat duniawi lainnya. Semua itu kita mohonkan kepada
Allah melalui do’a - do’a.
Namun banyak juga yang menggunakan Ruqyah (mantra/jampi)
untuk menyakiti siapapun yang dikehendaki dan dianggap menghalangi. Orang
sering mendatangi dukun/paranormal/"Kyai" yang dianggap "Sakti"
untuk menyelesaikan beberapa urusan pribadi agar segala urusan/hajat segera
terselesaikan secara "rapih". Tidak sedikit orang-orang "Sakti"
yang tadinya berniat mengobati justru ujung-ujungnya bersedia terima "order"
mengerjakan hajat-hajat para peminta pertolongan demi sejumlah uang.
Orang-orang "sakti" seperti ini yang menggunakan ilmunya untuk menyakiti apalagi sampai menghilangkan nyawa maka boleh untuk dibunuh berdasar hukum qishos. Disyareatkannya hukum qishosh dan diyat dalam undang-undang Islam tiada lain untuk melindungi jiwa manusia dari kelaliman sesamanya. Agar seseorang tidak mudah menyakiti dan menghilangkan nyawa orang lain. Pendeknya pukul dibalas pukul, pedang dibalas pedang, tangan dibalas tangan, dan nyawa dibayar dengan nyawa. Dan semenjak dini harus diadakan tindakan prefentif agar tidak sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Begitulah menurut pendapat Ulama seperti pendapat Imam syafii, hambali, Hanafi dan Maliki.
Lalu bagamana hukumnya bagi orang yang berbuat kejahatan dengan "menyewa"
jasa orang "sakti" tersebut ? Para ahli fiqih sudah menetapkan sebuah
consensus bahwa hukum menyewa penyihir untuk menyihir orang lain hukumnya
adalah haram.
Apalagi untuk membunuh, ini sama saja dia membunuh orang lain melalui tangan
orang lain. Sama seperti mafia-mafia kelas atas.
Nah, jika kita sebagai korban Ruqyah sihir
lalu menderita sakit baik penyakit bersifat medis maupun non-medis, Terutama
bagi para korban kejahatan orang-orang "sakti" diatas. Apa yang harus
kita lakukan ? jawabannya adalah "Sihir harus dilawan dengan sihir".
Maksudnya adalah ruqyah(mantra) sihir harus dilawan dengan ruqyah(mantra)
syar'i yakni Al-Qur'an.
Sekarang kita kembali ke soal Ruqyah sebagai
metode untuk mengobati. Berikut adalah beberapa dalil menurut Al-Qur'an dan Hadist
Nabi yang bisa menjadi bukti bahwa Ilmu Allah bisa untuk mengobati segala macam
penyakit salah satunya dengan Al-fatihah :
Aisyah berkata, “Apabila Rasulullah merasa sakit,
beliau meruqyah dirinya sendiri dengan membaca ayat-ayat perlindungan lalu
meniupnya.” (HR. Ahmad, no. 24308).
Aisyah berkata, “Rasulullah, apabila ada keluarganya
yang sakit, maka ia meniupnya dengan membaca al-Mu’awwidzat (surat-surat
perlindungan). Dan ketika beliau sakit saat menjelang kematiannya, maka akulah
yang meruqyahnya (meniupnya) dan aku usap dengan tangan beliau sendiri, karena
tangannya lebih besar berkahnya daripada tanganku. (HR. Muslim).
Aisyah, istri Rasulullah berkata, “Apabila Rasulullah
merasa sakit, Malaikat Jibril meruqyahnya dengan membaca, “Dengan nama Allah
yang menciptakanmu, dan Dia menyembuhkanmu dari segala macam penyakit, dan dari
kejahatan orang yang dengki saat ia dengki, dan dari kejahatan setiap orang
yang bermata jahat.” (HR. Muslim).
Utsman bin Abil ‘Ash berkata, “Rasulullah pernah
datang kepadaku, dan waktu itu saya lagi sakit yang sangat parah. Maka
Rasulullah bersabda, ‘Usaplah (badanmu yang terasa sakit) dengan tangan kananmu
sebanyak tujuh kali, seraya membaca, ‘Aku berlindung kepada Kemuliaan Allah dan
Kekuasaan serta Kerajaan-Nya dari kejahatan yang aku temui.’ Lalu aku melakukan
resep itu, dan Allah menghilangkan sakit yang ada pada diriku. Dan sejak itu
aku selalu memerintahkan keluargaku untuk melakukannya juga begitu juga
orang-orang lainnya.” (HR. Ahmad, no. 15677. Abu Daud, no. 3393. Tirmidzi, no.
2006 dan ia menyatakannya sebagai hadits hasan shahih).
Abu Sa’id
Al-Khudriy -radhiyallahu ‘anhu berkata, "Ada beberapa orang dari kalangan sahabat Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa
sallam- pernah berangkat dalam suatu perjalanan yang mereka lakukan sampai
mereka singgah pada suatu perkampungan Arab. Mereka pun meminta jamuan kepada
mereka. Tapi mereka enggan untuk menjamu mereka (para sahabat). Akhirnya,
pemimpin suku itu digigit kalajengking. Mereka (orang-orang kampung itu) telah
mengusahakan segala sesuatu untuknya. Namun semua itu tidak bermanfaat baginya.
Sebagian diantara mereka berkata, “Bagaimana kalau kalian mendatangi rombongan
(para sahabat) yang telah singgah. Barangkali ada sesuatu (yakni, obat)
diantara mereka”.Orang-orang itu pun mendatangi para sahabat seraya berkata,
“Wahai para rombongan, sesungguhnya pemimpin kami tersengat, dan kami telah
melakukan segala usaha, tapi tidak memberikan manfaat kepadanya. Apakah ada
sesuatu (obat) pada seorang diantara kalian?” Sebagian sahabat berkata, “Ya,
ada. Demi Allah, sesungguhnya aku bisa me-ruqyah. Tapi demi Allah, kami telah
meminta jamuan kepada kalian, namun kalian tak mau menjamu kami. Maka aku pun
tak mau me-ruqyah kalian sampai kalian mau memberikan gaji kepada kami”.
Merekapun menyetujui para sahabat dengan gaji berupa beberapa ekor kambing.
Lalu seorang sahabat pergi (untuk me-ruqyah mereka) sambil memercikkan ludahnya
kepada pimpinan suku tersebut, dan membaca, “Alhamdulillah Robbil alamin (yakni,
Al-Fatihah)”. Seakan-akan orang itu terlepas
dari ikatan. Maka mulailah ia berjalan, dan sama sekali tak ada lagi penyakit
padanya. Dia (Abu Sa’id) berkata, “Mereka pun memberikan kepada para sahabat
gaji yang telah mereka sepakati. Sebagian sahabat berkata, “Silakan bagi
(kambingnya)”. Yang me-ruqyah berkata, “Janganlah kalian lakukan hal itu sampai
kita mendatangi Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, lalu kita sebutkan kepada
beliau tentang sesuatu yang terjadi. Kemudian kita lihat, apa yang beliau
perintahkan kepada kita”. Mereka pun datang kepada Rasulullah -Shallallahu
‘alaihi wa sallam- seraya menyebutkan hal itu kepada beliau. Maka beliau
bersabda, “Siapa yang
memberitahukanmu bahwa Al-Fatihah adalah ruqyah?” Kemudian
beliau bersabda lagi, “Kalian telah benar, silakan (kambingnya) dibagi. Berikan
aku bagian bersama kalian”. Lalu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- tertawa“.
[HR. Al-Bukhoriy (2156), Muslim (2201)]
Riwayat-riwayat shahih tersebut menjelaskan bahwa
Rasulullah dan para shahabatnya menggunakan terapi ruqyah syar’iyah sebagai
obat penyakit medis dan non-medis. Siapa yang beranggapan bahwa ruqyah tidak
bisa dipakai untuk pengobatan penyakit medis (fisik), berarti anggapan itu
menyalahi dalil yang shahih dan praktik nyata yang dilakukan oleh sang guru
ruqyah syar’iyah, yaitu Rasulullah Muhammad shallallohu ‘alaihi wa sallam.
Langganan:
Komentar (Atom)







