Senin, 03 Februari 2014

Mengkritisi tanpa solusi

by: Prasetyo

Perlunya hati yang netral untuk melihat semua lebih dalam. Segala yang tampak tak selalu seperti yang terlihat, yang terlihat tak selalu seperti yang tampak. Jika hati berisi rangkaian dengki maka segala hanya tampak hitam. Dan hanya dirinya yang putih. Hati yang tak netral hanya cenderung melihat orang-orang yang dia suka saja yang bagus. Yang tak ia suka selalu saja tak bagus.

Kedewasaan menjadi dasar kendali sebuah pemikiran. Kedewasaan yang tak semata diukur melalui usia. Namun kedewasaan akan pengetahuan nilai hidup. Melihat dan menilai segala sesuatu memerlukan keahlian dan wawasan yang cukup luas, bukan sebatas ukuran rumah dan tempat kerja yang monoton. Seperti halnya seorang musisi ahli, ia dapat mengetahui fals atau tidaknya suatu musik hanya mendengar sepintas. Bagaimana mungkin bisa menilai baik buruknya partitur musik jika kemampuannya sebatas bikin roti tawar. Roti yang ia sajikan gak enak pula.

Apakah yang bisa menjadikan sebuah resto itu besar dan berkualitas? yang membuat resto menjadi besar dan berkualitas karena mereka konsisten menyajikan inovasi aneka masakan yang enak dan lezat. Mereka tidak melulu konsisten menyajikan menu masakan lama yang usang dan membosankan. Mungkin 20 tahun lalu menu itu menu yang digemari dan menjadi faforit. namun sekarang belum tentu, Masyarakat sudah semakin pintar, zaman berkembang. Aneka masakan dengan aneka cita rasa bertaburan dimana-mana. Hidup makin banyak pilihan.

Nah, masihkah kita sibuk menanam dengki namun enggan mengembangkan diri? Sibuk mencibir sambil maki-maki dibelakang namun tetap mengunyah makanan bikinan sendiri yang sudah tidak enak itu? Mau sampai kapan mengkritisi makanan tanpa mendidik generasi mendatang dengan menu resep baru yang enak dan lezat? Mau sampai kapan kita mengkritisi tanpa ada solusi?




Selasa, 07 Januari 2014

Medsos teman "Curhat"

Oleh : Prasetyo

Kenapa media sosial sekarang menjadi pilihan utama berkomunikasi? Ya, karena orang-orang itu tidak bisa di ajak komunikasi secara baik dan benar. Marah atau mengejek adalah pilihan mereka tuk mengalahkan pendapat yang sebenarnya bisa di perdebatkan secara baik-baik pula. Kenyamanan juga menjadi pilihan bahwa media sosial adalah sebagai "teman" yang tepat untuk mengungkapkan "unek-unek". Karena kalau bicara secara langsung dgn "orang tua" pasti ujung-ujungnya cuma disalahkan, dikritik. Dan ketika ditanya solusinya apa "orang tua" akan cenderung menjawab "Cari sendiri donk. kan kamu udah gede. Itu tugasmu sebagai pelajar". 

Nah, hal-hal demikianlah yang menyebabkan anak muda sekarang lebih memilih menundukkan kepala lalu sibuk bercengkrama dengan Hp. Anak sekarang sebenarnya tidak bodoh, mereka menjadi tampak bodoh karena kecerdasan mereka dihambat oleh berbagai tekanan-tekanan mental yang tidak mendidik seperti ucapan "Itu salah, jangan begitu" atau "Kalau kamu gak suka dengan caraku, jangan disini." atau "perploncoan ini sudah tradisi, jadi harus diikuti" atau "Dulu kami dididik lebih keras daripada ini" dan berbagai macam tekanan mental yang menurut saya sudah harus di revisi. Sudah menjadi kewajiban kita sebagai pembimbing atau pendidik tuk kembali mengusung prinsip ajaran Ki Hajar Dewantoro "Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani." 

Ing Ngarso Sung Tulodo artinya Ing ngarso itu didepan / dimuka, Sun berasal dari kata Ingsun yang artinya saya, Tulodo berarti tauladan. Jadi makna Ing Ngarso Sung Tulodo adalah menjadi seorang pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan bagi orang – orang disekitarnya. Sehingga yang harus dipegang teguh oleh seseorang adalah kata suri tauladan.

Ing Madyo Mbangun Karso, Ing Madyo artinya di tengah-tengah, Mbangun berarti membangkitan atau menggugah dan Karso diartikan sebagai bentuk kemauan atau niat. Jadi makna dari kata itu adalah seseorang ditengah kesibukannya harus juga mampu membangkitkan atau menggugah semangat . Karena itu seseorang juga harus mampu memberikan inovasi-inovasi dilingkungannya dengan menciptakan suasana yang lebih kodusif untuk keamanan dan kenyamanan.

Tut Wuri Handayani, Tut Wuri artinya mengikuti dari belakang dan handayani berati memberikan dorongan moral atau dorongan semangat. Sehingga artinya Tut Wuri Handayani ialah seseorang harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang. Dorongan moral ini sangat dibutuhkan oleh orang – orang disekitar kita menumbuhkan motivasi dan semangat.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari kata dasar didik dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian : proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, cara mendidik

Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.

Seiring dengan beberapa definisi diatas, beberapa tokoh pendidikan dunia telah memberikan pemikiran tentang hakikat pendidikan. Imam Al ghazali mengatakan bahwa hakikat pendidikan adalah media/wadah untuk mendekatkan diri pada-Nya demi meraih keselamatan dunia dan akhirat. Nouwen, Paulo Freire (tokoh pendidik Amerika Latin) memandang pendidikan sebagai suatu aktivitas yang harus menumbuhkan rasa cinta terhadap dunia dan sesama, kerendahan hati, keyakinan, pengharapan dan pemikiran kritis di dalam hati setiap orang yang terlibat di dalamnya. Atau dengan kata lain bahwa pendidikan mestilah menjadi proses untuk memanusiakan manusia. Mengembalikan lagi manusia pada fungsinya sebagai makhluk sosial. Bukan gadget sebagai teman setia.



Senin, 06 Januari 2014

Sumpah Hitam Cintaku

Oleh : Prasetyo


Aku tahu hidup ini tidaklah mudah. Aku hidup tanpa pernah tahu siapa orang tua kandungku. Aku berjuang dengan tanya yang tak terbatas. Aku cari makna hidupku sendiri sembari terus bertanya dan berharap, terus begitu hingga diapun lahir dan menutup semua tanya. Lahirnya membawa satu harap dan cinta yang hanya untuknya dan Sang Pencipta.

Inilah kehidupan Cintaku kini. Tak bisa di ganggu gugat. Jangan pernah mengusik. Jangan ganggu bahagia kami dengan polah tingkah kejammu. Boleh kau bersikap arogan tapi simpanlah untuk dirimu sendiri. Jangan lukai kami. Sakiti saja dirimu sendiri karena aku juga tak menyakitimu kan? namun jika kamu-kamu masih saja mengedepankan ego dan aroganmu lalu berbuat hal-hal yang menyenggol kami dan mengakibatkan dia menangis di kemudian hari, maka lihat saja nanti.... 

Hukum Tuhan akan mengalir dalam darahmu dan menyisakan azab pedih yang membuatmu meronta-ronta dalam gelapnya jiwa. Sel-sel tubuhmu akan dipenuhi kegelapan tanpa siang, syaraf-syaraf tubuhmu hanya berisi badai pasir tanpa air cahaya yang terang. Hampa akan menaungimu hingga ajal menjemputmu....




Segala ada batas daya

Oleh : Adri Prasetyo




Sadari.. sadari.. sadari bahwa segala ada batas daya.

Tak bisa diri melulu berkuasa. Roda berputar. Waktu bergulir.

Senja sudah mulai merapat. Maka mulailah tancapkan paku di tembok yang kokoh.

Jangan kau tancapkan paku di atas tanah liat yang lembab.

Sadari sebelum semua berakhir dan mati karena keringnya hati.

Lipat dan bungkus lalu buang jauh-jauh wajah penuh lipatan benci karena hanya memperjelas segala dengki dan sakit hati.





Pendidikan gaya "Count of Dracula"

Oleh : Prasetyo


Pagi 2014. Orang-orang ntu masih aje pada kaku-kaku. heh, sudahlah. Zaman sekarang orang sudah makin maju. Pengetahuan mereka sudah semakin berkembang. Akses pengetahuan mudah di dapat. Semakin kamu-kamu bicara & bersikap tanpa dasar seperti itu semakin keliatan rendahmu. Wajah-wajah kakumu itu gak bakalan memperlihatkan kewibawaan atau kharismamu, itu justru memperlihatkan guratan urat yang menegang lalu makinlah membuat kamu cepat uzur.

Mereka-mereka bukannya tidak tahu. Mereka ketakutan, takut salah. Ketakutan mereka berbuat salah akibat tingkah ente-ente yang kaku dan keras, memendam dan mematikan kreatifitas. Bersikaplah wajar dengan kewajaran yang indah. Pahami betul yang namanya Bhineka Tunggal Ika, dan pahami betul silanya yang ke dua : "Kemanusiaan yang adil dan beradab". Bersikaplah pertengahan, karena juga, kalau kita terlalu bersikap lemah dan lembut mereka-mereka bisa tak terkendali alias semerawut.

Sudah saatnya sikap belajar dikelas yang suasananya seperti sedang berada di Istana Count of Dracula itu di ganti suasana Shrek is Love, Shrek is live, suasana yang penuh makna learning by doing with the happy thing. Ingat nasihat guruku N. Riantiarno yang menyatakan dalam tulisan naskahnya yang terkenal, berjudul "Sampek engtay" :

MANUSIA
WAKTU HIDUP LEMAH LEMAS
BEGITU MATI KAKU DAN KERAS

SEMUA BENDA 
WAKTU HIDUP LEMAH LEMAS
BEGITU MATI KERING DAN GETAS

JADI
KAKU KERAS SAHABAT KEMATIAN
LEMAH LEMAS TEMAN KEHIDUPAN

MAKA
SENJATA KERAS CEPAT RUSAK
KAYU KERAS MUDAH PATAH

JANGAN HERAN
KAKU KERAS ADA DI BAWAH
LEMAH DAN LEMAS DIATASNYA

Atau di lirik yang lain beliau menuliskan :

Melarang dan larangan bisa panjang resikonya. 
Jangan itu, jangan ini. 
Harus bagaimana lagi? 
Ibarat gedung bagus, 
Megah indah 
Tapi tak punya pintu dan jendela.

Iya, ini benar sekali. Tak punya pintu dan jendela berarti hati dan pikiran tertutup. kretifitas dan inisiatif terkubur. Semua dilakukan dengan terpaksa meski mencoba memberi senyum palsu dan pura-pura sabar. karena cinta itu sudah mengering lalu sedikit lagi memudar. Hilang, hilang, hilang....

MERAH DICAMPUR KUNING
JADI WARNA JINGGA
PUTIH DICAMPUR HITAM
BERUBAH KELABU MUDA

BURUNG BERPASANGAN
LAUT BANYAK ASINNYA
MANUSIA BERJODOHAN
KEONG ADA RUMAHNYA

BAGAI LIDAH DAN RASA
BAGAI POHON DAN TANAH
BAGAI BULAN DAN MATAHARI
SAMPEK-ENGTAY DUET SERASI

TALI PERSAHABATAN
TERSIMPUL ABADI
SEPANJANG ZAMAN
DI BUMI ATAU LANGIT

DILUKAI
BANGKIT LAGI
DIGENCET, DIHAJAR
TETAP TEGAR
DIKUCILKAN, DIBUANG, DISIKSA
MAKIN KUAT PERKASA

JANGAN LUPA, ITU WATAK UTAMA
YEAH, YEAH...











Sabtu, 28 Desember 2013

Dua yang ku Cinta

 Oleh : Prasetyo
                                                         DUA YANG KUCINTA

Bahagianya melihat keceriaan di matamu, putraku. Bahagiamu adalah pelipur duka dan sepiku. Binarmu menerangi gelap angkara dunia penuh dengki, benci, hingga berbagai tekanan dunia sekitarku.

Biarkan meski mereka tak mau peduli akan nyatamu dan nyataku selama kau tetap bersamaku. POS (Paguyuban Olah Seni) yang ku dirikan, tidak lain adalah untuk mencerdaskan generasi muda dimasa mendatang, salah satunya adalah untuk generasimu.

Biarkan mereka mencibir penuh dengki, biarkan mereka memfitnah dengan aneka cerca. Toh mereka tak jua melangkah tuk berbuat yang demikian. mereka hanya bisa memicingkan mata lalu melenggang pergi.

Biarkan, biarkan, biarkan... asal aku masih bisa melihat senyum tulusmu. Karena ia merupakan gambar senyuman kaula muda generasi mendatang.
 




Selasa, 24 Desember 2013

"Jangan akting" adalah tingkat dasar

Oleh : Adri Prasetyo [Pendiri & Pembina Paguyuban Olah Seni]


Dalam perkembangannya seni akting atau keaktoran mulai mengalami penurunan kualitas karena semakin maraknya pelajaran-pelajaran akting instant atau aktor dadakan.  Banyak tawaran program 3-6 bulan dan langsung bisa akting. Sementara sangat berbeda dengan aktor profesional yang dalam pencarian watak/karakter dari tokoh yang dia perankan memerlukan waktu selama 3-6 bulan bahkan ada yang sampai satu tahun untuk mempelajari satu karakter.

Hal ini (akting instant) mungkin bisa dilakukan bagi aktor-aktor pemula, hanya sebatas memperkenalkan "kulit" nya saja, bahkan bisa di bilang lebih luar dari kulit yakni "bulu". Hanya sekedar agar calon aktor bisa berlaku benar dalam melakukan reading, dramatic reading, moving act/blocking. Sekedar benar intonasi, artikulasi, ekspresinya dan lain-lain. Namun apakah "kulit" dan "bulu" ini cukup untuk memainkan peran/ watak/ tokoh yang benar-benar "hidup" dan memiliki jiwa? Cukupkah pelajaran intonasi, artikulasi, ekspresi dan lain-lain itu tuk seorang aktor bisa dikatakan bermain bagus atas peran yang dimainkan?

Pernah dalam satu kelas saya mengajarkan istilah "jangan akting" untuk murid-murid saya. Ini saya tekankan tuk mereka agar mereka lebih bisa bermain wajar/ natural dan tidak bermain palsu atau over-acting. Supaya mereka bisa lebih tenang bermain menjadi "diri sendiri" karena untuk saat ini mereka baru pada tahap mengenal diri sendiri. Setidaknya dengan memainkan diri sendiri, akting mereka bisa lebih terlihat wajar dan indah atas segala kekurangan skill tubuh yang mereka miliki. Setidaknya mereka bisa akting menangis tanpa bantuan obat tetes mata atau bawang bombay atau apalah. Namun sekali lagi ini hanya dasar, sangat dasar. Karena jika dengan ilmu ini mereka merasa cukup untuk memainkan berbagai peranan dan tidak perlu lagi menggali tingkat lanjutan yakni tingkat yang sedikit di atas dasar (belum advance) maka yang akan mereka suguhkan pada penonton atas tiap-tiap tokoh yang mereka perankan adalah diri sendiri. Dan itu pasti sangat bikin BOSAN.

Kesalah pahaman ini harus diluruskan, karena akting bukan sekedar akting. Akting adalah SENI menyerap seluruh daya hidup karakter lain. Akting adalah rangkaian elemen sejarah, sosiologi, geografi, psikologi, filosofi dari suatu Tokoh atau Karakter yang diserap lalu disatukan kedalam pikiran, tubuh dan jiwa aktor. Dan ini memang memerlukan waktu. Waktu yang sangat panjang. Semua tergantung tingkat bakat dan kecerdasan yang dimiliki aktor. Bisa cepat, bisa lambat, atau bisa tidak berhasil sama sekali (jika tidak berbakat & malas).

Banyak aktor muda atau tua yang masih sibuk dengan ilmu akting tingkat dasar tersebut. Mereka menganggap akting itu bukan merupakan skill and art sehingga tak perlu latihan-latihan akting dan kedisiplinan mempelajari peran, cukup menunjukkan karisma diri dan semua akan baik-baik saja. mereka menganggap bahwa akting cuma sebatas mengucapkan dialog dan bisa akting marah atau menangis itu sudah cukup. Tidak, ini tidak betul. Kenapa? Karena berakting cukup menjadi diri sendiri itu bisa menghancurkan jika terus menerus dipertontonkan. Ini akan menjadi suatu  pola akting yang akhirnya begitu-begitu saja dan tidak berkembang. Paling-paling yang berkembang cuma mukanya saja yang tambah tua, lalu berganti peran jadi orang tua.

Seni Akting memerlukan skill dan kedisiplinan tinggi lalu menjadikan satu seluruh elemen artistik antara kefahaman penulis, kefahaman aktor & kefahaman sutradara. Seni akting memerlukan kajian dan pengembangan intelektual dan spiritual secara terus menerus karena karakter manusia itu kompleks dan tak terbatas untuk di pelajari. Seni akting bukan sekedar job sambilan tuk mencari ketenaran & uang. Seni akting adalah masterpiece sebuah karya hidup dari sekelumit torehan tinta kehidupan nyata. It's an ART, not a FART.