Selasa, 01 September 2015

Ikhlas di area pembuangan

By: Prasetyo Bayanaka

Pagi-pagi sudah disambut kata "ikhlas" di kepala. Ibarat kita memilih tinggal di area sampah, ya kudu ikhlas mencium bau busuk tiap hari dan terus menerima "doktrin" ikhlas, sampai kita bisa mencium harum kesturi pada tiap sampah yang dibuang ke dekat kita atau bahkan langsung ke muka kita. Jika kita berusaha berontak maka kita segera di bekap dengan kain agar "bungkam". Jika masih berontak, kita dinilai sudah mengacak-acak system atau pakem yang ada. Dan kalau masih nekat berontak juga... sayonara, goodbay, wassalam.....

Seperti halnya buruh yang didoktrin untuk "ikhlas" bahwa pengusaha dimana-mana sama. Mereka (para pengusaha) selalu berprinsip "pengeluaran kecil, dapet Banyak". Atau contoh lain adalah oknum agen nakal penyalur figuran di sinetron. Meraka dapet Rp. 100.000,- tapi yang dikasih ke pekerja "kecil" cuma Rp, 25.000,- dengan dalih banyaknya pengeluaran "ini dan itu". Pokoknya 25% buat pekerja, 75% buat Boss. Jadi kudu Ikhlas. Ini sudah pakem.

Mungkin itu sebabnya sekarang ini banyak orang yang mengambil profesi lain sebagai tukang GOJEK. Iya, sebab didalam rumus GOJEK gak ada system gaji tapi adanya system bagi hasil 80:20. 80 persen untuk tukang gojek, 20 persen untuk gojek ( sumber ). Nah, coba bayangkan kalau perusahaan memakai system ini. Di jamin perusahaan tidak akan rugi (meski tidak untung besar sih) bahkan bisa mensejahterakan kehidupan bersama dan mencapai Keadilan sosial dan ekonomi bagi seluruh rakyat Indonesia.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar