By: Prasetyo Bayanaka
Pagi-pagi
sudah disambut kata "ikhlas" di kepala. Ibarat kita memilih tinggal di
area sampah, ya kudu ikhlas mencium bau busuk tiap hari dan terus
menerima "doktrin" ikhlas, sampai kita bisa mencium harum kesturi pada
tiap sampah yang dibuang ke dekat kita atau bahkan langsung ke muka
kita. Jika kita berusaha berontak maka kita segera di bekap dengan kain agar "bungkam". Jika masih berontak, kita dinilai sudah mengacak-acak system atau pakem yang ada. Dan kalau masih nekat berontak juga... sayonara, goodbay, wassalam.....
Seperti
halnya buruh yang didoktrin untuk "ikhlas" bahwa pengusaha dimana-mana
sama. Mereka (para pengusaha) selalu berprinsip "pengeluaran kecil,
dapet Banyak". Atau contoh lain adalah oknum agen nakal penyalur figuran
di sinetron. Meraka dapet Rp. 100.000,- tapi yang dikasih ke pekerja
"kecil" cuma Rp, 25.000,- dengan dalih banyaknya pengeluaran "ini dan
itu". Pokoknya 25% buat pekerja, 75% buat Boss. Jadi kudu Ikhlas. Ini sudah pakem.
Mungkin
itu sebabnya sekarang ini banyak orang yang mengambil profesi lain
sebagai tukang GOJEK. Iya, sebab didalam rumus GOJEK gak ada system gaji
tapi adanya system bagi hasil 80:20. 80 persen untuk tukang gojek, 20
persen untuk gojek ( sumber ). Nah, coba bayangkan kalau perusahaan memakai system ini. Di jamin perusahaan tidak akan rugi (meski tidak untung besar sih) bahkan bisa mensejahterakan kehidupan bersama dan mencapai Keadilan sosial dan ekonomi bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar