Selasa, 07 Januari 2014

Medsos teman "Curhat"

Oleh : Prasetyo

Kenapa media sosial sekarang menjadi pilihan utama berkomunikasi? Ya, karena orang-orang itu tidak bisa di ajak komunikasi secara baik dan benar. Marah atau mengejek adalah pilihan mereka tuk mengalahkan pendapat yang sebenarnya bisa di perdebatkan secara baik-baik pula. Kenyamanan juga menjadi pilihan bahwa media sosial adalah sebagai "teman" yang tepat untuk mengungkapkan "unek-unek". Karena kalau bicara secara langsung dgn "orang tua" pasti ujung-ujungnya cuma disalahkan, dikritik. Dan ketika ditanya solusinya apa "orang tua" akan cenderung menjawab "Cari sendiri donk. kan kamu udah gede. Itu tugasmu sebagai pelajar". 

Nah, hal-hal demikianlah yang menyebabkan anak muda sekarang lebih memilih menundukkan kepala lalu sibuk bercengkrama dengan Hp. Anak sekarang sebenarnya tidak bodoh, mereka menjadi tampak bodoh karena kecerdasan mereka dihambat oleh berbagai tekanan-tekanan mental yang tidak mendidik seperti ucapan "Itu salah, jangan begitu" atau "Kalau kamu gak suka dengan caraku, jangan disini." atau "perploncoan ini sudah tradisi, jadi harus diikuti" atau "Dulu kami dididik lebih keras daripada ini" dan berbagai macam tekanan mental yang menurut saya sudah harus di revisi. Sudah menjadi kewajiban kita sebagai pembimbing atau pendidik tuk kembali mengusung prinsip ajaran Ki Hajar Dewantoro "Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani." 

Ing Ngarso Sung Tulodo artinya Ing ngarso itu didepan / dimuka, Sun berasal dari kata Ingsun yang artinya saya, Tulodo berarti tauladan. Jadi makna Ing Ngarso Sung Tulodo adalah menjadi seorang pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan bagi orang – orang disekitarnya. Sehingga yang harus dipegang teguh oleh seseorang adalah kata suri tauladan.

Ing Madyo Mbangun Karso, Ing Madyo artinya di tengah-tengah, Mbangun berarti membangkitan atau menggugah dan Karso diartikan sebagai bentuk kemauan atau niat. Jadi makna dari kata itu adalah seseorang ditengah kesibukannya harus juga mampu membangkitkan atau menggugah semangat . Karena itu seseorang juga harus mampu memberikan inovasi-inovasi dilingkungannya dengan menciptakan suasana yang lebih kodusif untuk keamanan dan kenyamanan.

Tut Wuri Handayani, Tut Wuri artinya mengikuti dari belakang dan handayani berati memberikan dorongan moral atau dorongan semangat. Sehingga artinya Tut Wuri Handayani ialah seseorang harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang. Dorongan moral ini sangat dibutuhkan oleh orang – orang disekitar kita menumbuhkan motivasi dan semangat.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari kata dasar didik dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian : proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, cara mendidik

Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.

Seiring dengan beberapa definisi diatas, beberapa tokoh pendidikan dunia telah memberikan pemikiran tentang hakikat pendidikan. Imam Al ghazali mengatakan bahwa hakikat pendidikan adalah media/wadah untuk mendekatkan diri pada-Nya demi meraih keselamatan dunia dan akhirat. Nouwen, Paulo Freire (tokoh pendidik Amerika Latin) memandang pendidikan sebagai suatu aktivitas yang harus menumbuhkan rasa cinta terhadap dunia dan sesama, kerendahan hati, keyakinan, pengharapan dan pemikiran kritis di dalam hati setiap orang yang terlibat di dalamnya. Atau dengan kata lain bahwa pendidikan mestilah menjadi proses untuk memanusiakan manusia. Mengembalikan lagi manusia pada fungsinya sebagai makhluk sosial. Bukan gadget sebagai teman setia.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar