Semu abadi by:
Prasetyo
Menguak takdir membiru menerjang hitam
legam lingkup takdir senja mati.
Harapan pudar basi menantang jejak semu
abadi.
Hati tengelam terpana caci diri menggoyang
nurani menatap wajah ilahi.
Semu janji, semu hari, semu hati, semu diri
hingga semu mati
Berbaris menolehkan kepala sang jiwa
sembari berairmata
Pedas pilu yang serasa abadi…
Takdirkah namanya ?
Ketika taring-taring tajam
Menusuk batas angkara,
Lendir darah hitam mengalir deras
Sementara berat kepala lepas menggelinding
Dan tersenyum….
Sesak
hati
by: Prasetyo
Kegelapan merajalela
menghujam deras serpihan gurat nadi
malapetaka.
Ikatan puing memory menjejal nafas sesak
hati
yang membiru remang-remang tajam.
…pekatnya mengganjal….
…Geraknya membakar…..
Bagai satu kisi-kisi fatamorgana yang makin
curam…
Batas jiwa by: Prasetyo
Kataku terhenti bayangmu
Jiwaku tenggelam nyatamu…
…wahai batas batas jiwa..
Rengkuhlah batas fatamorgana,
Rogohlah nurani yang menebas diamnya mayapada…
…wahai batas jiwa…
Temani aku menyentuh abadi semesta
Dampingi aku dalam sepinya jiwa
Meski ia berbungkus lara sempurna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar