Oleh : Prasetyo
Kenapa media sosial sekarang menjadi pilihan utama berkomunikasi? Ya, karena orang-orang itu tidak bisa di ajak komunikasi secara baik dan benar. Marah atau mengejek adalah pilihan mereka tuk mengalahkan pendapat yang sebenarnya bisa di perdebatkan secara baik-baik pula. Kenyamanan juga menjadi pilihan bahwa media sosial adalah sebagai "teman" yang tepat untuk mengungkapkan "unek-unek". Karena kalau bicara secara langsung dgn "orang tua" pasti ujung-ujungnya cuma disalahkan, dikritik. Dan ketika ditanya solusinya apa "orang tua" akan cenderung menjawab "Cari sendiri donk. kan kamu udah gede. Itu tugasmu sebagai pelajar".
Nah, hal-hal demikianlah yang menyebabkan anak muda sekarang lebih memilih menundukkan kepala lalu sibuk bercengkrama dengan Hp. Anak sekarang sebenarnya tidak bodoh, mereka menjadi tampak bodoh karena kecerdasan mereka dihambat oleh berbagai tekanan-tekanan mental yang tidak mendidik seperti ucapan "Itu salah, jangan begitu" atau "Kalau kamu gak suka dengan caraku, jangan disini." atau "perploncoan ini sudah tradisi, jadi harus diikuti" atau "Dulu kami dididik lebih keras daripada ini" dan berbagai macam tekanan mental yang menurut saya sudah harus di revisi. Sudah menjadi kewajiban kita sebagai pembimbing atau pendidik tuk kembali mengusung prinsip ajaran Ki Hajar Dewantoro "Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani."
Ing Ngarso Sung Tulodo artinya Ing ngarso itu didepan /
dimuka, Sun berasal dari kata Ingsun yang artinya saya, Tulodo berarti
tauladan. Jadi makna Ing Ngarso Sung Tulodo adalah menjadi seorang
pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan bagi orang – orang
disekitarnya. Sehingga yang harus dipegang teguh oleh seseorang adalah
kata suri tauladan.
Ing Madyo Mbangun Karso, Ing Madyo artinya di
tengah-tengah, Mbangun berarti membangkitan atau menggugah dan Karso
diartikan sebagai bentuk kemauan atau niat. Jadi makna dari kata itu
adalah seseorang ditengah kesibukannya harus juga mampu membangkitkan
atau menggugah semangat . Karena itu seseorang juga harus mampu
memberikan inovasi-inovasi dilingkungannya dengan menciptakan suasana
yang lebih kodusif untuk keamanan dan kenyamanan.
Tut Wuri Handayani, Tut Wuri artinya mengikuti dari
belakang dan handayani berati memberikan dorongan moral atau dorongan
semangat. Sehingga artinya Tut Wuri Handayani ialah seseorang harus
memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang. Dorongan
moral ini sangat dibutuhkan oleh orang – orang disekitar kita
menumbuhkan motivasi dan semangat.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan
berasal dari kata dasar didik dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian : proses pengubahan sikap
dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia
melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, cara mendidik.
Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai
daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran
serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan
menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.
Seiring dengan beberapa definisi diatas, beberapa tokoh pendidikan dunia telah memberikan pemikiran tentang hakikat pendidikan. Imam Al ghazali mengatakan bahwa hakikat pendidikan adalah media/wadah untuk mendekatkan diri pada-Nya demi meraih keselamatan dunia dan akhirat. Nouwen, Paulo Freire (tokoh pendidik Amerika Latin) memandang pendidikan sebagai suatu aktivitas yang harus menumbuhkan rasa cinta terhadap dunia dan sesama, kerendahan hati, keyakinan, pengharapan dan pemikiran kritis di dalam hati setiap orang yang terlibat di dalamnya. Atau dengan kata lain bahwa pendidikan mestilah menjadi proses untuk memanusiakan manusia. Mengembalikan lagi manusia pada fungsinya sebagai makhluk sosial. Bukan gadget sebagai teman setia.
Seiring dengan beberapa definisi diatas, beberapa tokoh pendidikan dunia telah memberikan pemikiran tentang hakikat pendidikan. Imam Al ghazali mengatakan bahwa hakikat pendidikan adalah media/wadah untuk mendekatkan diri pada-Nya demi meraih keselamatan dunia dan akhirat. Nouwen, Paulo Freire (tokoh pendidik Amerika Latin) memandang pendidikan sebagai suatu aktivitas yang harus menumbuhkan rasa cinta terhadap dunia dan sesama, kerendahan hati, keyakinan, pengharapan dan pemikiran kritis di dalam hati setiap orang yang terlibat di dalamnya. Atau dengan kata lain bahwa pendidikan mestilah menjadi proses untuk memanusiakan manusia. Mengembalikan lagi manusia pada fungsinya sebagai makhluk sosial. Bukan gadget sebagai teman setia.




