By : Prasetyo
Kesadaran dan ketidaksadaran adalah
dua sisi yang harus dijalani manusia dalam perjalanan kehidupan dan
kematiannya. Perjalanan dengan aneka warna yang harus ditempuh. Entah tua,
muda, pria, atau wanita semuanya sama saja. Semua memiliki riak gejolak yang
menggoda di kehidupan ini. Gejolak atas nama nafsu, dendam, amarah, iri, hasud,
dengki, sombong, serakah, dan lain-lain. Gejolak yang menjadikan manusia tidak
sadar atas apa yang kemudian dilakukannya. Benar atau salah, baik atau buruk,
merugikan atau tidak bagi dirinya atau orang lain. Dalam prakteknya, ketika
manusia berada pada titik ketidaksadaran, segala riak perasaan dan pikiran
menjadi sebuah irama musik dan tarian tersendiri bagi jiwanya. Hingga
menjadikannya sulit untuk berhenti dari menemukan kembali titik kesadarannya.
Kesadaran yang menjadi sebuah identitas baru yang disebut jati diri. Jati diri
bagi diri sendiri dan bagi diri lainnya yang merasa hidup sebagai manusia.
Kesadaran yang dapat menjadikan hidup lebih tenang dan tentram dalam menyikapi
segalanya, besar atau kecil dalam lingkaran kehidupan. Hingga tak ada lagi
riak gejolak negatif, tak ada lagi tangis derita dan distorsi kehampaan jiwa.
Dalam hidup setiap orang punya jatah
masing-masing. Begitu juga masalah cinta. Setiap pasangan punya jatah dalam
mencintai dan dicintai. Kita tak pernah bisa mengukur berapa besar/kecil jatah
cinta itu. Namun kita hanya bisa melihat dan merasakannya melalui sebuah sikap
dari setiap orang yang telah menyatakan cinta. Sikap yang menggambarkan
tanggung jawab, perhatian, menghargai, memaafkan, memberi yang terbaik,
terbuka, mempercayai dan dapat dipercaya, sabar meredam ego dan keakuan.
Bohong, jika kita tak memerlukan cinta. Bodoh, jika kita tak mau dicinta dan
mencinta. Bosan, jika tak ada cinta dalam hidup. Bohong, jika kita tak
memerlukan cinta. Bodoh, jika kita tak mau dicinta dan mencinta. Bosan, jika
tak ada cinta dalam hidup kita.
Salam Cinta


Tidak ada komentar:
Posting Komentar