Rabu, 27 Agustus 2014

Penyebab Iri Hati, Dengki, Hasut, Fitnah, Buruk Sangka, dan Khianat


  Orang yang hasad adalah orang yang merasa tidak senang mengetahui kenikmatan atau kebahagiaan yang dialami orang lain. Selain itu, dikatakan juga bahwa orang yang hasad ialah orang yang menginginkan kenikmatan hilang dari orang lain. Dia belum merasa tenang jika orang lain belum mengalami kondisi seperti yang diharapkannya. Hal itu berbeda dengan al-ghibthah,yaitu orang yang hanya menginginkan kenikmatan seperti yang dialami orang lain tanpa menginginkan kenikmatan itu hilang dari orang lain.Namun pada hakikatnya, dengki adalah perasaan marah atau benci terhadap segala sesuatu yang baik yang dilihatnya pada diri orang lain.

Iri Hati, Dengki, Hasut, Fitnah, Buruk Sangka, dan Khianat antar sesama manusia disebabkan oleh banyak hal, diantaranya adalah:

1. Merasa dirinya paling hebat, terlampau kagum dan pemujaan terhadap kehebatan dirinya. Ia keberatan bila ada orang lain melebihi dirinya.

2. Kesombongan, Ia memandang remeh orang lain dan karena itu ia ingin agar dipatuhi dan diikuti perintahnya. Ia takut apabila orang lain memperoleh kenikmatan atau kesenangan, dan menyebabkan orang tersebut berbalik dan tidak mau tunduk kepadanya.

3. Kikir, orang seperti ini senang bila orang lain terbelakang dari dirinya, seakan-akan orang lain itu mengambil dari milik dan simpanannya. Ia ingin meskipun nikmat itu tidak jatuh padanya, agar ia tidak jatuh pada orang lain.

4. Karena sudah ada permusuhan. Ini adalah penyebab kedengkian yang paling parah. Ia tidak suka orang lain menerima nikmat, karena dia adalah musuhnya. Maka akan diusahakannya jangan ada perolehan kebajikan pada orang tersebut. Bila musuhnya itu mendapat kenikmatan atau kebahagian, hatinya menjadi sakit karena bertentangan dengan tujuannya.

5. Takut mendapat saingan. Bila seseorang menginginkan atau mencintai sesuatu maka ia khawatir kalau mendapat saingan dari orang lain, sehingga tidak terkabullah apa yang ia inginkan. Karena itu setiap kelebihan yang ada pada orang lain selalu ia tutup-tutupi. Bila tidak, dan persaingan terjadi secara sportif, ia takut kalau dirinya tersaingi dan kalah.

6. Ambisi memimpin, senang pangkat dan kedudukan. Ia tidak menoleh kepada kelemahan dirinya, seakan-akan dirinya tak ada tolok bandingnya. Jika ada orang ingin menandinginya, tentu itu menyakitkan hatinya, ia akan mendengkinya dan menginginkan lebih baik orang itu habis saja karirnya, atau paling tidak hilang pengaruhnya.

7. Terlalu lama memegang kekuasaan. Ia merasa tidak ada yang pantas atau lebih baik dari dirinya tuk memimpin. dia anggap semua orang adalah bodoh dan tak mengerti. Ia anggap kalau selain dirinya yang memimpin pasti akan hancur.

8. Terlalu cinta terhadap keluarga. Cinta berlebihan membuatnya lupa diri. Ia takut "perusahaan" miliknya dipegang oleh orang lain yang bisa jadi orang lain lebih baik dan lebih pintar dari keluarganya. Begitu ada yang lebih Pintar dari keluarganya langsung di CUT-OFF.

9. Takut miskin. Karena tak punya kemampuan yg bisa meningkatkan skillnya dan khawatir kalau diluar perusahaan dia tak bisa hidup mandiri lalu miskin kembali, maka ia memulai praktek "menjilat dan adu domba". Ia fitnah pesaing-pesaingnya. Ciri orang seperti ini akan selalu tampak sangaaaatttt sopan dan penurut. Tidak pernah membantah dan selalu bahagia pada perintah. Ia lebih memilih jadi "babu" boss-nya daripada jadi partner kerja saingannya.








Kamis, 14 Agustus 2014

Renungan Dua Insan


By :  Prasetyo

Kesadaran dan ketidaksadaran adalah dua sisi yang harus dijalani manusia dalam perjalanan kehidupan dan kematiannya. Perjalanan den­gan aneka warna yang harus ditempuh. Entah tua, muda, pria, atau wan­ita semuanya sama saja. Semua memiliki riak gejolak yang menggoda di kehidupan ini. Gejolak atas nama nafsu, dendam, amarah, iri, has­ud, dengki, sombong, serakah, dan lain-lain. Gejolak yang menjadikan manusia tidak sadar atas apa yang kemudian dilakukannya. Benar atau salah, baik atau buruk, merugikan atau tidak bagi dirinya atau orang lain. Dalam prakteknya, ketika manusia berada pada titik ketidaksadaran, se­gala riak perasaan dan pikiran menjadi sebuah irama musik dan tarian tersendiri bagi jiwanya. Hingga menjadikannya sulit untuk berhenti dari menemukan kembali titik kesadarannya. Kesadaran yang menjadi se­buah identitas baru yang disebut jati diri. Jati diri bagi diri sendiri dan bagi diri lainnya yang merasa hidup sebagai manusia. Kesadaran yang dapat menjadikan hidup lebih tenang dan tentram dalam menyikapi segalan­ya, besar atau kecil dalam lingkaran kehidupan. Hingga tak ada lagi riak gejolak negatif, tak ada lagi tangis derita dan distorsi kehampaan jiwa.


Dalam hidup setiap orang punya jatah masing-masing. Begitu juga masalah cinta. Setiap pasangan punya jatah dalam mencintai dan dicintai. Kita tak pernah bisa mengukur berapa besar/kecil jatah cinta itu. Namun kita hanya bisa melihat dan merasakannya melalui sebuah sikap dari setiap orang yang telah menyatakan cinta. Sikap yang menggambar­kan tanggung jawab, perhatian, menghargai, memaafkan, memberi yang terbaik, terbuka, mempercayai dan dapat dipercaya, sabar meredam ego dan keakuan. Bohong, jika kita tak memerlukan cinta. Bodoh, jika kita tak mau dicinta dan mencinta. Bosan, jika tak ada cinta dalam hidup. Bohong, jika kita tak memerlukan cinta. Bodoh, jika kita tak mau dicinta dan mencinta. Bosan, jika tak ada cinta dalam hidup kita.


Salam Cinta


(Sebuah Coretan pembuka pada buku Puisi Karya Adri & Dyah : RENUNGAN DUA INSAN)