Apa itu sombong?
Menukil pendapat Ibnu Jawziy sang Ulama Psikolog klasik
yang wafat sekitar tahun 597 H. Menerangkan bahwa sombong itu adalah
meninggikan diri sendiri seraya merendahkan yang lainnya. Orang yang sombong
merasa lebih unggul dari orang lain, mungkin dari segi keturunan, harta, ilmu,
ibadah, atau yang lainnya.
Dan, sombong berdasarkan buku Al Thibb Al Ruhani termasuk
kepada jenis penyakit ruhani. Ciri penyakit ini menurut beliau rahimahullah
adalah perasaan yang lebih mulia, ingin dihargai, congkak, dan ingin dihormati.
Bahayakah sikap sombong?
Abu Salamah berkata, "Abdullah ibn Umar berpapasan
dengan Ibn Amr di Marwah. Lalu keduanya turun sambil bercakap-cakap. Ketika
'Abdullah ibn Umar berlalu, Ibn Amr lalu terduduk lesu seraya menangis
tersedu-sedu. Seseorang bertanya, 'Mengapa Engkau Menangis?' Ia Menjawab sambil
menunjuk ke Abdullah ibn Umar, "Orang ini memberitahu bahwa ia mendengar
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Barangsiapa di hatinya
terdapat sebiji sawi kesombongan, Allah akan menelungkupkan wajahnya ke api
nereka" (HR. Al Bayhaqi)
Tidak hanya itu, dalam riwayat Muslim dari Ibn Mas'ud
bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Tidak akan masuk
ke surga orang yang dihatinya masih terdapat sebutir atom kesombongan.
Dalam sebuah atsar disebutkan: اَلْكِبْرُ عَلَى الْمُتَكَبِّرُ
صَدَقَةٌ
(Bersikap sombong kepada orang sombong adalah sedekah)
Kesombongan yang dimaksud adalah bersikap sombong dengan
anggota tubuh, yaitu dengan dengan niat
untuk memberikan pelajaran agar orang sombong tersebut sadar akan kesombongannya,
dan di dalam hati tetap meyakini bahwa di sisi Allah bisa jadi orang tersebut
lebih mulia darinya.
Misalnya dengan
memalingkan muka ketika bertemu dengannya, berkata kasar, bersikap acuh dan
sejenisnya. Pada hakikatnya sikap
seperti itu bukanlah kesombongan jika hati tidak sombong dan dengan niat untuk
menasihati. Ia merupakan sebuah strategi
dakwah agar orang sombong tersebut sadar.
Ada beberapa tanda yang menunjukkan bahwa seseorang
bersikap sombong, di antaranya adalah:
- Dihadapan orang kaya/ terkenal/ besar ia bersikap
santun namun jika dihadapan orang yang "rendah" ia bersikap acuh dan
ala kadarnya bertegur sapa.
- Jika diberi nasihat dia berlaku "defensive"
penuh alasan bahkan marah dan tersinggung.
- Merasa sudah punya "kedudukan" sehingga tiap
orang HARUS menghormatinya.
- Malas dan tidak mau menimba ILMU karena merasa sudah
"CUKUP".
- Hanya mau menerima nasihat dari orang yang memiliki
"kedudukan".
- Sibuk mengkoreksi orang lain tapi tak pernah
mengkoreksi diri sendiri.
- Meninggalkan ibadah (sholat) karena merasa bahwa berbuat baik saja sudah cukup.
Penulis kitab Bariqah
Mahmudiyah mengatakan, "Bersikap sombong kepada orang yang sombong adalah
sedekah, karena jika kita bersikap tawadhu di hadapan orang yang sombong, maka
itu akan menyebabkan dirinya terus-menerus berada dalam kesesatan"

